Tampilkan postingan dengan label Cerita Fiksi: Suri dan Amarilis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Fiksi: Suri dan Amarilis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Juli 2010

Cerita Fiksi: Suri dan Amarilis, dan petualangan kecil mereka. Part 15

“A… apakah Master berhasil?” Tanya Amarilis ragu-ragu.
“Tentu! Pada awalnya, aku sempat ragu, karena pada saat yang bersaan sahabatku Cyra akhirnya mengetahui semua rencanaku. Dia melarangku, memberitahuku betapa berbahayanya ini bagiku, bagi pekerjaan ayahku. Tapi aku kembali berhasil meyakinkan diriku sendiri. Aku sudah bersusah payah selama ini hanya untuk membatalkannya? Tidak akan.
Cyra akhirnya menyerah membujukku dengan cara baik, dia mengancam akan memberi tahu orang lain jika ia tidak diperbolehkan bertransformasi bersamaku. Ia berkata, ‘jika aku tak bisa menghentikanmu, maka kau harus membiarkanku ikut bersamamu’ dan aku menyetujuinya. Dia anak panti asuhan, ia tak punya siapa-siapa kecuali aku, sebagai satu-satunya teman yang dia punya. Aku tak ingin meninggalkannya sendirian, maka, malam itu juga, kami bertransformasi” Amarilis menahan napas saat mendengarkannya. Ceritanya sungguh hampir sama dengan dia dan Suri.
“Mustahil” Desah Amarilis.
“Ya, aku pun tak percaya waktu itu kami benar-benar melakukannya” Kata Master Zaida sambil membelai rambut Suri. “aku bukan bibinya, seperti yang kalian tahu. Aku sepupunya” Amarilis terbengong-bengong. Semua orang mengenal Master Zaida sebagai bibi Suri.
“Sepupu?” Tanya Amarilis.
“Ya, sepupu, waktu aku seusia kalian, Suri masih kecil. Setelah bertransformasi, aku kabur dari rumah bersama Cyra. Kami berdua pergi, perjalanan panjang dan sangat berat, menyebrangi Xam, terus menuju Anetri. Kelelahan, lapar, tak kupikirkan. Tak akan ada yang mencurigai kami di sana, hanya itu yang membuatku tetap berjalan. Tapi tentu saja, aku yang waktu itu tak sepintar yang kukira. Anetri adalah negari kerajaan yang sangat patuh hukum. Kau tidak akan bisa memasuki sebuah kerajaan tanpa izin masuk, dan aku melupakan itu, karena terlalu sibuk memikirkan kekuatan yang akan segera kudapatkan. Tepat saat kami tiba di pelabuhan ibu kota kota Aneba, kami ditangkap pihak kerajaan dan dituduh sebagai penyusup, di pengadilan itulah, semuanya terbongkar” Kisah Master Zaida. “Cyra berusaha melindungiku, ya Cyra tersayang mengatakan dialah dibalik semua ini, dia memanfaatkan aku yang anak seorang pejabat di pemerintahan untuk mengejar obsesinya mempelajari sihr tingkat tinggi. Dia berbohong demi menyelamatkan aku” Semua memori masa lalu Master Zaida berkelebat di depan matanya. Terasa begitu nyata, begitu mengerikan. “ingin sekali aku menyangkalnya, karena pada kenyataannya aku lah yang memulai semua ini, tapi waktu itu aku terlalu syok, terlalu takut, aku terlalu pengecut untuk mengakui semuanya”
“Mereka percaya?”
“Tak semudah itu memang, tapi disaat ayahku datang, semuanya tak bisa kuubah lagi. Pihak kerajaan tentu tak akan menghukum putri pejabat negeri tetangga, ditambah lagi prestasiku yang terlalu mengilap membuat mereka mempertimbangkan hukumanku. Dan benar saja, aku dikembalikan ke tempat ini sementara Cyra tetap menjalani hukuan di penjara kota Aneba. Tongkat sihirnya dihancurkan, dia tak lagi boleh mengenal sihir. Bayangkan saja, gadis seusiamu dipenjara di penjara kerajaan yang gelap, lembab dan penuh dengan penjahat. Aku lah yang seharusnya dikurung di tempat itu, bukan Cyra” Kata Master Zaida. “Cyra yang anggun, gemulai dan sangat pemalu seperti seekor kucing, dengan berani mampu membelaku di depan pengadilan kerajaan, sementara aku? Aku meninggalkannya disana, sendirian” Kenang Master Zaida.
“Lalu apakah Master pernah bertemu dengannya lagi?” Tanya Amarilis penasaran. Senyum getir mengembang di wajah Master Zaida.
“Tentu… tentu, dia kembali ke panti asuhan lima belas tahun kemudian, setelah masa tahanannya, tapi dia bukanlah Cyra yang dulu lagi, dia berubah. Wajahnya buruk rupa, dan yang paling parah, dia membenciku. Cyra berpikiran bahwa aku akan datang menolongnya keluar dari penjara itu atas bantuan ayahku, dia menunggu dan menunggu, tapi kenyataannya aku tak pernah melakukannya. Dia menyerangku dengan mantera yang tak pernah aku ketahui sebelumnya, aku tak mengerti bagaimana ia bisa menguasai kekuatan yang begitu besar, ia sama sekali tadak diperbolehkan bersentuhan dengan sihir pada masa hukumannya. Dia tak hanya melukaiku, tapi dia juga membunuh orang tuaku, dia ingin aku merasakan kesendirian yang dirasakannya selama ini. Dia ingin aku merasakan bagaimana rasanya saat aku tak lagi bisa berlindung dibalik punggung ayahku, bagaimana berjuang untuk hidupku sendiri. Aku harus dirawat secara intensif waktu itu, sementara Cyra menghilang. Terakhir yang kuketahui, dia kembali dihikum, kali ini dikurung oleh penjara sihir, tak terlihat mata, tapi dia tak akan bisa keluar dari belenggu itu. Aku yang membuatnya menjadi seperti itu”
Amarilis membelalakkan mata mendengarnya. Dia tahu tentang hukuan-hukuman pemerintahan sihir, dan tahu dengan detail seperti apa tepatnya penjara sihir, belenggu sihir yang kasat mata. Dan yang paling diingatnya adalah, siksaan dari belenggu itu. Semua kenangan-kenangan buruk yang pernah terjadi di dalam hidup kita akan diputarkan kembali, membuat kita merasakan kembali rasa sakitnya, tekanannya…
“Padang rumput tempat kita menyelamatkan Suri tadi… itulah belenggunya” Perkataan Master Zaida membuat Amarilis kembali terbengong-bengong. Tempat itu memang menguarkan aroma kebencian yang luar biasa dan, luar biasa dingin, berbau busuk. Tapi ia tak pernah menyangka itu adalah belenggu sihir… kalau begitu…?
“Kucing yang waktu itu?! Wanita buruk rupa itu!” Sambar Amarilis ketka semuanya terasa sambung menyambung di kepalanya. Wanita itu mengenal Master Zaida.
“Ya, kau benar, apapun yang kau pikirkan tentangnya… wanita di padang rumput itu adalah Cyra”

Selasa, 15 Juni 2010

Cerita Fiksi: Suri dan Amarilis, dan petualangan kecil mereka. Part 14

"Aku tahu remua rencanamu dengan Suri sejak awal dan menipu kalian dengan meletakan resep ramuan perubah jasad palsu di laciku. Awalnya hanya sekedar ingin melihat bagaimana kalian berusaha mendapatkan bahan-bahan ramuan itu. Ternyata kalian berdu benar-benar nekad dan luar biasa tidak tertolong lagi kenakalannya. Kau juga, aku sempat kaget kau menguasai dengan baik banyak sekali mantera tingkat lanjut. Aku salute, tapi juga tak habis pikir pada saat yang bersamaan" Jelas Master Zaida.
Untuk sejenak Amarilis merasa sangat lega ternyata ramuan yang diminumnya dengan Suri itu palsu, tapi kemudian dia jadi ngeri sendiri karena tindak-tanduknya selama ini ternyata diketahui gurunya.

"Kau sadar sekarang? Betapa berbahayanya akibat yang dapat ditimbulkan jika kau memaksakan sesuatu yang memang belum saatnya?" Master Zaida melirik ke arah Suri.
"Aku menyesal... harusnya aku tak terpengaruh ambisi Suri..." Amarilis merasakan matanya berkaca-kaca.
"Aku tahu. Dan aku tak bisa menyalahkanmu sepenuhnya. Aku mengerti apa yang kau rasakan" Desah Master Zaida sambil berlutut di depan Amarilis hingga tubuh mereka sejajar. Master zaida menatap kedua mata Amarilis dalam-dalam. "dulu pun, aku juga seperti kalian. Penasaran setengah mati pada sihir tingkat tinggi. Mengapa harus menunggu bertahun-tahun untuk bisa sekedar melihatnya? Mengapa tak semua penyihir bisa mempelajarinya? Mengapa ini, mengapa itu, banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk di kepalaku saat itu" Master Zaida meraih pundak Amarilis untuk menyuruhnya duduk di lantai sisi tempat tidur Suri.
"Tapi Master tak sebodoh aku... yang terlalu berambisi untuk mempelajari sihir tingkat tinggi, menghalalkan segala cara" Nada menyesal terdengar sangat kental dalam kata-kata Amarilis. Master Zaida tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Terbayang semua kejadian dimasa lalu, disaat dia masih seperti Amarilis dan Suri. Mencuri dengar obrolan para guru membincangkan sihir tingkat tinggi, menemukan resep ramuan perubahan... Cyra... sahabatnya tercinta.
"Percayalah, aku bahkan lebih bodoh dari kau saat itu" Kata Master Zaida saat tawanya lenyap.
"Maksud Anda?" Amarilis menautkan kedua alisnya karena bingung. Master Zaida menghela napas panjang sebelum menjawab,
"Aku menemukan resep ramuan itu... yang asli"
"Apa?!" Amarilis membelalakkan mata.
"Saat itu aku sepertimu, siswi terpintar di sekolah sihir, aku bahkan bisa langsung masuk kelas lanjutan tiga tahun lebih awal dari anak-anak seumurku. Aku sangat, sangat bangga pada diriku sendiri. Semua guru dan staff pemerintahan sihir mengenalku, bukan karena aku anak dari kepala tata hukum dan undang-undang sihir, tapi karena diriku sendiri. Dan satu sifatku yang tak pernah puas, aku ingin lebih hebat dan lebih kuat lagi... secepatnya. Aku ingin segera mempelajari sihir tingkat tinggi, hanya saja ada satu hal yang menghalangiku saat itu: usia. Secerdas apapun kau, sejenius apapun kau, jika usiamu belum mencukupi, kau takkan bisa. Maka, aku pergi ke kantor ayahku. Semua orang disana mengenalku dengan status 'anak jenius' sekaligus 'anak kepala tata hukum dan undang-undang sihir' dan mereka membiarkan saja aku masuk ke ruang kerja ayahku, tak ada yang curiga. Aku mencurinya dari brangkas kantor ayahku di pemerintahan sihir. Ada satu buku penuh mantera-mantera tingkat tinggi dan aku lebih dari senang saat itu. Aku bahagia, karena dengan buku ini, akhirnya impianku, untuk mempelajari sihir tingkat tinggi secepatnya akan tercapai" Papar Master Zaida. Amarilis masih membelalakkan matanya karena takjub.

"Aku... tak pernah memikirkan akibatnya... setelah menemukan resep itu, aku mengumpulkan sedikit demi sedikit bahan-bahan ramuan, aku hampir bisa mendapatkan semua yang kuinginkan. Ayahku sangat memanjakan aku, karena aku yang jenius ini, dan mendapatkan bahan-bahan ramuan itu darinya. Aku beralasan sedang melakukan proyek sekolah, oleh karena itu, aku hanya bisa meminta bahan-bahan yang berbahaya dan langka dalam jumlah yang sedikit, sangat sedikit, tapi aku sudah bertekad, maka aku mengumpulkannya sambil berpura-pura tak ada yang terjadi, aku tetap jadi anak seusiaku saat itu; pergi ke sekolah, mengerjakan tugas dan berteman, sahabatku satu-satunya, Cyra pun tak tahu ada yang kusembunyikan. Semua orang mengenalku sebagai Zaida yang jenius dan rendah hati, padahal aku jauh dari itu semua"

:to be continued:

Jumat, 07 Mei 2010

Cerita Fiksi: Suri dan Amarilis, dan petualangan kecil mereka. Part 13.

"Apa dia akan baik-baik saja?" Tanya Amarilis khawatir. Saat ini Amarilis, Master Zaida dan Suri yang masih tak sadarkan diri sedang berada di flat yang disewa Amarilis saat pertama kali datang ke kota ini bersama Suri.
"Kuharap... dia terlalu banyak mendapatkan mantera jahat" Jawab Master Zaida. Tentu bukan jawaban yang diharapkan Amarilis. Ia mengerutkan dahinya menatap sahabat yang sangat dikasihinya terbaring lemah di tempat tidur. Wajahnya luar biasa pucat dan bibirnya membiru. Saat itu Suri memang terlihat seperti orang yang sudah meninggal.
Master Zaida mengeluarkan berbagai macam botol dari dalam tas yang dibawanya dengan mantera pengecil benda. Ia membuka botol besar yang terbuat dari kristal dan berisi cairan berwarna kebiruan dan meminumkannya pada Suri. Sebenarnya banyak sekali hal yang ingin ditanyakan Amarilis pada Master Zaida, mulai dari bagaimana ia bisa bersama mereka di tempat ini, sampai mengenai penyihir aneh yang baru saja dihadapinya hari ini. Tapi rasa cemasnya terhadap Suri menghapus semuanya.

"Ini" Kata Master Zaida sambil memberikan Amarilis sebuah botol kaca seukuran ibu jari.
"Apa ini?" Tanya Amarilis sambil memandangi botol kaca bening yang memperlihatkan larutan di dalamnya. Larutan itu berwarna merah semerah darah.
"Minum, dan kau akan tahu" Jawab Master Zaida. Amarilis menatap Master Zaida dengan keragu-raguan. "yaampun nah, aku tak akan meracunimu"
Amarilis membuka penutup botol itu dan mengendus mulut botolnya, memastikan kalau cairan itu bukan darah.
Ternyata mdmang bukan. Aromanya seperti herbal... lucretia... atau apa ya?
Dengan sedikit keragu-raguan tersisa, Amarilis akhirnya menenggak larutan itu. Dengan sekali teguk, cairan berwarna merah darah itu langsung meluncur ke dalam kerongkongannya.

Rasanya aneh... agak masam dan... hangat...

Amarilis memekik seketika saat rasa hangat di lehernya yang ditimbulkan larutan itu berubah menjadi semakin hangat dan perlahan panas. Panasnya lalu menjalar ke dadanya dan ke perutnya. Rasa hangatnya kini hilang sama sekali, digantikan oleh rasa panas yang luar biasa membakar organ dalam tubuhnya. Wajahnya mengejang, rahangnya tegang menahan sakit. Air mata merebak seketika. Keringat mulai meluncur di wajahnya.
Ia menjatuhkan botol itu ke lantai, membiarkannya bergemelutuk dan menggelinding di lantai. Lengan-lengannya begetar hebat.
"Sa...kit..." Ucapnya dengan suara parau. Air mata semakin menggenang, membuat pandangannya semakin tak jelas.
"Sedikit sakit memang. Bertahanlah," Jawab Master Zaida.
'Sedikit' katanya?! Pekik Amarilis dalam kepalanya. Ia bahkan merasa ada asap merembes keluar dari dalam tubuhnya.

Amarilis menjatuhkan tubuhnya ke lantai saat rasa panasnya mulai menjalar ke lengan-lengannya, ke kaki-kakinya, dan terakhir ke kepalanya. Ia berharap dinginnya lantai dapat sedikit mengurangi rasa panas di tubuhnya. Tarikan napas Amarilis semakin berat dan tidak beraturan. Kepalanya terasa mendidih. Lehernya yang terbakar tak memungkinkannya untuk berteriak melampiaskan rasa sakit yang dideritanya. Entah sejak kapan tepatnya ia tak sadarkan diri.

***
"Bangun! Amarilis!" Seru Master Zaida. Tepukan ringannya di pipi Amarilis mengumpulkan perlahan kesadaran Amarilis yang sempat mengilang.
"Mas...ter?" Suara Amarilis masih serak dan tenggorokannya memang terasa sakit. Rasa panas membakar itu seolah tak pernah ada, tapi tubuhnya terasa sakit, seperti habis berolah raga berat tanpa pemanasan.
Ia memerhatikan sekitarnya. Ia masih di flat itu.
"SURI!" Serunya, yang terbayangkan pertama kali olehnya adalah Suri. Seketika Amarilis bangkit dan mendapati Suri, masih sama seperti saat sebelum ia pingsan tadi.
"Sssshhh!! Jangan ribut! Dia sudah melewati masa kritisnya. Suri memang terlihat tak sepucat tadi. Pipinya tak lagi seputih kapur dan bibirnya merona. Amarilis menghela napas lega melihatnya.

"Berapa lama aku...?" Tanya Amarilis sambil memegangi kepalanya yang masih terasa aneh. Ia mendapati lengan bajunya jadi jauh lebih panjang dari sebelumnya. Lengannya juga terasa... begitu kecil?
"Tidak lama, paling tidak dua jam" Jawab Master Zaida santai.
Amarilis melihat ke arah kakinya. Pakaian yang ia kenakan benar-benar kebesaran. Semuanya.
Dengan segera ia menyadari apa yang terjadi. Ia langsung berlari ke arah cermin dan mendapati ia telah kembali ke tubuh aslinya. Anak-anak.
"Mustahil!" Serunya melihat wajahnya kembali jadi wajahnya yang dulu. Rambutnya, tinggi tubuhnya... semuanya. "tidak mungkin! Ramuan penukar tak ada penawarnya!"
Master Zaida tertawa mendengarnya. Ia sangat menikmati saat tipuannya selama ini tak diketahui muridnya itu.
"Kau pikir kau bisa membuat ramuan perubahan semudah itu, hah? Aku tak mungkin meletakan resep ramuan seberbahaya itu di laci di ruanganku, Amarilis. Aku jadi bingung sebenarnya kau ini jenius atau apa?"
Amarilis membelalakkan mata mendengar penuturan sang Master.

:to be continued:

Kamis, 21 Januari 2010

Cerita Fiksi: Suri dan Amarilis, dan petualangan kecil mereka. Part 12.

“SURI!!” Pekik Amarilis saat melihat angin keperakan membelit tubuh Suri. Saat ini Amarilis dan Master Zaida telah tiba di padang rumput di belakang gedung sekolah. Keduanya tercengang menyaksikan pemandangan yang tersaji di sana. Angin kencang berpusar dengan hebatnya membantuk pusaran, persis angin topan tornado dalam skala yang lebih kecil.
“Ya Tuhan” Kata Master Zaida sambil membekap mulutnya dengan kedua tangan. Ia sangat menyasal. Ia hanya lengah beberapa saat untuk mengawasi Suri dan beginilah akibatnya. Tubuh Suri tergolek lemah, ia tak sadarkan diri.

Angin sedingin es itu membelit tubuh Suri dan mengangkatnya tinggi ke angkasa. Suri yang tak sadarkan diri terlihat seperti boneka kayu yang putus tali kendalinya.
“Hentikan! Siapapun kau!” Teriak Master Zaida ke arah pusaran angin itu.
Mata Amarilis tertumbuk pada sesosok putih cemerlang yang muncul dari tengah padang rumput. Tepat di bawah pusaran angin yang membelit Suri.
“Master! Lihat!” Seru Amarilis sambil menunjuk ke arah sosok cemerlang itu.
“Apa itu?” Tanya Master Zaida ragu-ragu.
“Mungkinkah itu…” Amarilis ragu-ragu untuk mengutarakan pikirannya. ‘Tak mungkin itu kucing kan?’ Pikirnya dalam hati.
“Kucing?” Kata Master Zaida ragu-ragu. Kucing berbulu putih itu berjalan dengan anggunnya menuju tempat mereka berdiri.

Master Zaida tak yakin apakah itu kucing sungguhan. Ia lalu memejamkan matanya dan mulai menggumamkan mantera khusus untuk melihat yang tak nampak. Amarilis memerhatikan raut wajah Masternya yang berubah secara drastis dan ada kabut berwarna keemasan menyelubungi matanya. Amarilis kembali memandang ke arah kucing berbulu cemerlang itu dan berinisiatif untuk melapalkan mantera yang serupa.
“Ya Tuhan!” Gumam Amarilis saat matanya kini bisa melihat sosok sebenarnya dari binatang cantik itu. Seorang wanita tua berpakaian serba putih. Tapi bukan itu yang membuatnya terbelalak. Wajah wanita itu amat hancur dan buruk rupa.
Rambut keperakannya begitu panjang hingga terseret ke tanah saat ia berjalan. Sebagian rambutnya juga terurai menutupi sebelah wajahnya. Cara berjalannya pun tak sempurna. Terpogoh-pogoh dan tampak kepayahan. Amarilis sering diceritakan oleh teman-teman panti asuhannya tentang legenda hantu-hantu yang menyeramkan, tapi baru kali ini ia benar-benar melihat sosok yang begitu membuat perutnya kram dan dahinya basah oleh keringat dingin.

Wanita tua menyeramkan itu kini hanya berjarak sekitar dua meter dari tempat Amarilis dan Master Zaida terpaku.
“Apa kabar Zaida? Sudah lama sekali kita tak bertemu ya?” Kata wanita itu. Ada dua hal yang membuat Amarilis kembali tercengang. Yang pertama adalah, suara wanita tua buruk rupa ini begitu merdu dan syahdu, seperti suara seorang penyanyi gereja yang usianya tak beda jauh dengannya. Dan yang ke dua adalah, mengapa dia mengenal Master Zaida?
“Sudah kuduga itu kau. Lepaskan dia! dia muridku!” Kata Master Zaida. Perhatian Amarilis kini kembali ke arah Suri yang kini hanya kelihatan kepalanya saja. Tubuhnya seolah telah ditelan oleh pusaran angin itu.
“Oh, sekarang kau bahkan punya murid sendiri ya?” Tanya wanita tua itu.
“SURI!!!” Pekik Amarilis. Ia berharap teriakannya terdengar dan Suri kembali sadarkan diri.

Wanita tua itu menyipitkan matanya, menatap ke arah Master Zaida lekat-lekat. Jelas bukan tatapan penuh rasa bahagia karena bertemu kawan lama., itu adalah tatapan penuh kebencian dan ketidaksukaan. Tiba-tiba angin yang berpusar di sekitar tubuh Suri semakin jelas dan kelihatan memadat.
“Hentikan itu! Kau bisa membunuhnya!” Tuntut Master Zaida sambil menunjuk ke arah pusaran angin. Suasana dinginnya pun terasa sampai ke tulang. Ia tak berani membayangkan sedingin apa yang dirasakan Suri di sana.
“Memang aku ingin membunuhnya kok, anak nakal seperti dia harus dihukum” Kata wanita tua itu penuh kesombongan. Amarilis membelalakkan mata karena terkejut. Suri akan dibunuh wanita ini?!
“Master! Lakukan sesuatu!” Pinta Amarilis dengan panik.

“Kau yang minta!” Kata Master Zaida ke arah wanita tua itu. Seketika langit yang memang sudah tertutup awan kelabu semakin bertambah muram. Hari seolah malam, hanya saja tak ada bulan maupun bintang. Hanya ada kegelapan. Pandangan Amarilis menjadi terbatas, karena matahari tak lagi nampak dan memancarkan sinarnya. Ia seolah tengah berada di dalam sebuah kamar gelap tak berujung. Ia tak lagi bisa melihat Suri yang masih terjebak di dalam pusaran angin yang membekukan itu. Namun ia masih bisa melihat Master Zaida yang tubuhnya kini terselubung cahaya keemasan, berpendar dengan frekwensi yang aneh. Begitu juga dengan wanita tua dengan wajah buruk rupa. Mereka sama-sama terselubung pendar-pendar aneh. Amarilis yakin ini adalah bagian dari sihir tingkat tinggi yang ia dan Suri ingin kuasai secepatnya. Jantung Amarilis berdegup kencang saat cahaya yang berpendar di antara Master Zaida dan wanita tua itu semakin bertambah terang setiap detiknya, hingga terasa sangat menyilaukan mata Amarilis. Dengan refleks ia menutup matanya dengan lengan dan langsung mundur beberapa langkah dari kedua orang itu. Yang terlihat olehnya hanyalah cahaya menyilaukan—ledakan cahaya dan bau-bauan aneh, segala macam bau, dari yang sangat busuk sampai yang begitu manis namun memuakkan.
***

“Aku tak menyangka kita akan bertemu lagi, Zaida. Di tempat ini lagi!” Kata wanita tua itu kepada Master Zaida. Wanita tua itu menghadapkan telapak tangannya ke udara, dan gumpalan cahaya seolah keluar dari dalam tubuhnya melalui telapak tangannya.
Master Zaida melakukan hal serupa, dan tanpa pikir panjang ia langsung melepaskan gumpalan cahaya itu ke arah wanita tua berwajah buruk rupa. Cahaya itu langsung bergerak sangat cepat ke arah wanita tua dan tepat mengenai lengannya. Cahaya itu berubah menjadi lendir hijau menjijikkan dan berbau busuk.
“Agghh!!!” Pekik wanita tua itu saat lendir yang menempel di tangannya terasa amat panas membakar kulit keriputnya.
Wanita itu langsung menyambarkan puluhan kilat ke arah Master Zaida sambil menjauh, dan salah satunya berhasil mengenai tubuh Master Zaida. Serangan kilat itu memang tak melukai tubuh bagian luar Master Zaida, namun auranya merasuki tubuh dan menyengat di dalam. Master Zaida terbatuk beberapa kali dan darah segar mengalir dari dalam mulutnya. Master Zaida melap sisi bibirnya dari bakas darah dan mengeluarkan tongkat sihirnya secara perlahan dari dalam jubah panjangnya. Ia lebih ahli dalam menggunakan tongkat daripada wanita ini, kawan lamanya yang ia tahu benar. Wanita tu melihat dengan jelas benda apa yang sedang dipegang oleh Master Zaida dan terbelalak. Ia tak lagi punya tongkat sihir sejak dihukum oleh pemerintahan sihir karena melanggar pasal berat. Dan ia tahu benar bakat Master Zaida dalam menggunakan tongkat.
“Buang benda itu jauh-jauh Zaida! Ayo kita bertarung secara adil” Tantang wanita tua itu.
“Sayang sekali, aku tak begitu suka sportifitas” Kata Master Zaida sambil mengayunkan tongkatnya ke depan dan melapalkan mantera tingkat tinggi. Seketika ledakan cahaya kehijauan terasa membutakan mata.
***

Langit gelap perlahan memudar. Amarilis kembali dapat melihat sekelilingnya, meski belum sempurna.
“Suri!!” Jeritnya saat didapatinya Suri yang masih tak sadarkan diri sedang meluncur dengan kecepatan tinggi menuju bumi kala angin yang membelit tubuhnya memudar.
Dengan sigap ia mengeluarkan tongkat sihirnya dari dalam saku jubah seragamnya dan melapalkan mantera untuk membuat tubuh Suri jatuh dengan lembut ke atas tanah. Amarilis berlari ke arah padang rumput dan menangkap tubuh Suri yang hampir menyentuh tanah.
Ia sangat terkejut karena tubuh Suri terasa sangat dingin dan pakaiannya tercoreng di sana-sini. Ia takut wanita tua itu benar-benar telah membunuh Suri.
“Suri!!! Sadarlah, kumohon!!” Kata Amarilis sambil mengguncang-guncangkan tubuh Suri untuk menyadarkannya, namun tak ada tanda-tanda Suri telah sadarkan diri. Amarilis yang panik langsung menggosokkan telapak tangannya di lengan Suri yang terasa membeku, berharap ia bisa membuat tubuh Suri menghangat.
Master Zaida menghampirinya dan langsung menggendong Suri.
“Ayo Amarilis, kita harus segera pergi dari sini sebelum penyihir tua itu sadar!” Seru Master Zaida sambil mempercepat langkahnya. Amarilis menurut dan sambil berlari, ia memerhatikan sosok kucing putih cantik itu sedang tergeletak tak sadarkan diri di dekat pohon cheddar.

:to be continued:

Jumat, 04 Desember 2009

Cerita Fiksi: Suri dan Amarilis, dan petualangan kecil mereka. Part 11.

“Kucing?” Suri masih terheran-heran dengan sosok putih cemerlang yang berjalan perlahan mendekatinya. Tepat setelah angin dingin itu lenyap.
Langkah kaki yang anggun, mata hijau cemerlang, juga bulu putih tebalnya yang berpendar. Indah.

Kucing itu semakin mendekat ke arah Suri. Hingga menyisakan jarak sekitar satu meter, ia berhenti dan menekuk kaki belakangnya—duduk khas seekor kucing, sambil mengibaskan ekornya yang panjang. Kucing putih itu menatap Suri lekat-lekat, tepat ke kedua matanya. Suri semakin heran akan kelakuan kucing putih itu. Ia menatapnya balik.
“Kau yak seharusnya berada di sini” Suara seorang wanita terdengar dari dalam tubuh kucing itu. Suri terlonjak dan terjatuh kembali saking kagetnya.
“Ka… kau berbicara?” Tanya Suri terbata.
“Kenapa? Belum pernah lihat kucing berbicara sebelumnya?” Tanya kucing berkilauan itu. Suri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saking syoknya. Tentu saja ia belum pernah bertemu binatang yang bisa berbicara sebelumnya.

Jantungnya berdetak kencang dan keringat dingin mulai menitik keluar dari pelpisnya. Kalau kucing ini bisa bicara, hal apa lagi yang mungkin bisa dilakukannya? Rona ketakutan mulai menjalari wajah Suri.
“Kau tak seharusnya berada di tempat ini. Padang ini milikku. Tak boleh ada seorangpun—sesuatupun yang menjejakkan kaki kotor mereka di tanahku!” Bentaknya.
“Ma… maaf, aku tak tahu peraturannya. Sungguh. Aku pendatang” Jawab Suri jujur.
“Dari mana kau berasal?” Tanya kucing itu tanpa membuka mulutnya. Suara yang dihasilkan ternyata memang berasal dari dalam tubuhnya.
“A… aku datang dari Xam. Namaku Suri, aku bersama… adikku, Amarilis” Jawab Suri. Kucing dengan bulu bersinar itu tetap menatap suri lekat-lekat.
“Kau bohong!” Bentaknya. Suri membelalakkan mata karena terkejut. Bagaimana mungkin kucing ini tahu ia berbohong?
“Tidak berdua!! Kalian datang bertiga!!” Bentak kucing itu disertai geraman kasar. “Aku tak suka ada yang membohongiku!!” Teriaknya penuh amarah. Angin sedingin es kmbali berhembus. Tajam, dan menyesakkan. Cahaya di sekitar tubuh kucing itu semakin terang benderang.
“Tunggu dulu! Aku memang hanya datang dengan Amarilis! Aku bersumpah!” Teriak Suri. Ia memang berbohong, karena Amarilis memang bukan adiknya, tapi ia memang datang bersama Amarilis. Mereka memang datang berdua!
Suasana semakn mencekam. Angin dingin itu serasa menyayat kulit wajahnya.
***

Derap langkah-langkah cepat Amarilis memecah keheningan lorong-lorong gelap bangunan sekolah. Sudah hampir seluruh lorong dijelajahinya dan ia tetap tak menemukan Suri.
“Kemana sih dia?” Kata Amarilis yang mulai panik. Ia menyesal telah meninggalkan suri yang kalut tadi. Suri tak mungkin kembali ke flat sewaan mereka karena ini masih jam pelajaran. Gerbang sekolah masih terkunci rapat. “Tapi di mana?” Gumam Amarilis dalam hati.
Amarilis kembali menyusuri lorong-lorong gelap. Hingga pada sebuah persimpangan, ia hampir menabrak seseorang. Amarilis membelalakkan kedua matanya saat menyadari siapa gerangan yang hampir ditabrak olehnya.
“Ma…” Desahnya panik saat sosok itu terlihat semakin jelas. Master Zaida. Amarilis mematung saking kagetnya.
‘Amarili! Astaga! Akhirnya aku menemukanmu!” Seru Master Zaida histeris.
“Eh?” Amarilis ternganga. Bagaimana mungkin Master Zaida mengetahui tentang dirinya?
“Nanti akan kujelaskan! Kita harus segera menemukan Suri!” Kata Master Zaida sambil menarik lengan Amarilis dan menyeretnya untuk sekera melanjutkan perjalanan.
Separuh hati Amarilis tenang karena ada Master Zaida yang akan membantunya menemukan Suri. Namun sebagian lagi tentu saja takut dan cemas tentang hal illegal yang telah dilakukannya bersama Suri.
“Master… Anda tahu aku sedang mencari Suri?” Tanya Amarilis di tengah langkah cepat mereka. Ia sendiri juga bingung menuju kemana sebenarnya mereka berjalan?
“Jangan banyak tanya! Aku tahu di mana Suri. Dia dalam bahaya!” Jawab Master Zaida yang langsung membuat Amarilis kembali tersentak. Darah seolah surut dari wajahnya. Pucat. Hal yang paling tak diinginkannya terjadi.
“Suri dalam bahaya?!”

Sabtu, 21 November 2009

Cerita Fiksi: Suri dan Amarilis, dan petualangan kecil mereka. Part 10.

"Ulangi lagi! Bagaimana mungkin kau tidak bisa mantera sederhana begini?!" Bentak guru sihir Suri dan Amarilis yang baru. Seorang pria tua dengan janggut panjang melambai.
"Suri, aku kan sudah bilang tentang mantera-mantera dasar!" Bisik Amarilis dari seberang meja.
"Aku kan tidak mungkin menguasainya dalam semalam!" Sahutnya.
Amarilis sebelumnya sudah memberikan buku-buku mantera dasar untuk dipelajari Suri. Bagaimana mungkin penyihir dewasa yang mendaftar di sekolah lanjutan tidak menguasai mantera dasar?

Saat ini mereka sedang berada di dalam kelas pelajaran sihir. Sebuah ruang sumpek dengan barang-barang sihir berjubel di lemari-lemari usang di sepanjang dinding dalam ruangan berbau kayu terbakar itu. Penerangan yang remang semakin membuat kesan muram di ruangan itu.
"Harusnya kita mempersiapkan ini sebelum merubah wujud!" Sesal Suri.
"Oh ya! Bagaimana mungkin kita bisa bersiap-siap sementara otakmu hanya berisi rencana untuk berubah wujud!" Balas Amarilis.
"Diam!!" Bentak pria tua guru baru mereka. "Dengar! Aku tak akan memulai pelajaran jika diantara kalian masih ada yang tidak bisa mantera dasar!" Lanjutnya. Perhatian seisi kelas yang beranggotakan lima belas orang itu langsung tertuju ke arah Suri dan Amarilis. Tatapan mata mereka seolah mengisyaratkan ketidak sukaan mereka akan dua siswa baru ini.
Dengan berat hati Suri kemudian membereskan buku-bukunya dan melangkah keluar kelas.
"Tunggu! Suri! Kau mau kemana?!" Desis Amarilis saat Suri melintasi mejanya. Dengan terburu-buru Amarilis merapikan barang-barangnya dan mengikuti jejak Suri meninggalkan ruang kelas suram itu
.
"Nah! Tidak ada yang perlu diperhatikan! Ayo mulai pelajaran!" Suara pria itu menggema sampai ke lorong di depan kelas.
"Suri! Tunggu!" Panggil Amarilis yang mengejar Suri yang berjalan dengan langkah-langkah cepat.
"Apa?!" Tantangnya.
"Kenapa pergi?" Tanya Amarilis saat ia berhasil menghampiri Suri.
"Kau tanya kenapa?! Mereka menatapku seakan-akan aku ini idiot! Memangnya kau tidak dengar tadi pria itu bilang apa? Dia bilang dia tidak akan mengajar jika masih ada yang tidak menguasai mantera dasar! Jika masih ada AKU! Ah,kau! Kau jenius! Kau hapal semua mantera bahkan mantera yang terpikir olehku saja tidak! Kau harusnya tetap di kelas!" Bentak Suri dengan jengkel.
Amarilis membelalakkan mata karena kaget. Suri tak pernah membentaknya sebelum ini.

"Kenapa kau seperti menyalahkan aku?" Tanya Amarilis.
"Hah? Menyalahkan mu? Kau jenius dan aku menyalahkanmu?" Tanya Suri sinis.
"Nada bicaramu seperti menyalahkanku! Hey, ingat ya! Kau yang memintaku membantumu merubah wujud! Membuatmu dewasa! Aku yang membuat ramuannya sesuai keinginanmu!" Balas Amarilis kesal.
"Ya! Hanya kau yang melakukannya! Aku lupa kau luar biasa jenius! Nah, kenapa kau tidak kembali ke kelas dan belajar sihir tingkat lanjutan bersama dengan para jenius lainnya?!" Bentak Suri sambil menyerahkan buku-buku yang sempat diberikan Amarilis.
"Ya! Kau benar!" Sahut Amarilis kesal sambil memutar tubuhnya dan berjalan cepat-cepat ke arah kelas.
Suri pun berlalu ke arah sebaliknya.

"Sial!" Maki Suri dan menyandarkan dirinya di sebuah pohon cheddar besar yang ada di tengah padang rumput di belakang bangunan sekolahnya. Ia begitu kesal pada dirinya sendiri. Ia menyesal karena begitu terburu-buru mengikuti hawa nafsunya untuk mempelajari sihir lanjutan, padahal tentunya seseorang harus menguasai dasar suatu hal baru bisa mempelajari tingkat lanjutnya.
Ia juga membentak Amarilis tadi.
Tiba-tiba saja ia merasa sendirian. Benar-benar sendirian. Padang rumput itu terlalu sunyi. Tidak ada kicauan burung, dengungan serangga, bahkan hewan-hewan lain yang merumput pun tak ada.

Angin sedingin es berhembus begitu kencang dan tajam. Seolah berusaha menggores kulit wajahnya yang tak tertutup pakaian. Dengan refleks Suri langsung menutupi wajahnya dengan lengannya. Inikah mengapa tak ada seorangpun--sesuatupun di tempat ini? Helaian rumput-rumput berterbangan mengikuti arah angin, karena terpotong tajamnya angin.
Hembusan tajam itu terus bertiup kencang dan semakin kecang, hingga entah setelah berapa lama, anginya berhenti sama sekali. Seolah tak pernah terjadi apa-apa sama sekali. Aneh.

Belum selesai Suri terheran-heran akan peristiwa tadi, ia dikejutkan oleh kehadiran sosok putih bersinar berkilauan menghampirinya. Sosnk putih itu datang dari arah angin tajam itu datang.
"Kucing?"

:to be continued:

Selasa, 03 November 2009

Cerita Fiksi: Suri dan Amarilis, dan petualangan kecil mereka. Part 9.

"Tempat ini..." Suri ternganga menyaksikan tempat yang begitu berbeda dengan kampung halamannya. Gedung-gedung besar berdempetan bercat warna pucat menyambut mereka setelah hampir selama lima jam berada di dalam perahu. Berbeda sekali dengan tempat tinggal mereka dahulu, rumah-rumah mungil dengan cerobong asap, bangunan dari batu, juga lapangan luas dan domba-domba.
"Selamat datang di Androd" Bisik Amarilis. Dia sudah tahu seperti apa Androd dari buku-buku yang dibacanya.
"Kota macam apa ini?" Tanya Suri saat mereka berjalan berdampingan dan memandangi bangunan di sepanjang jalan yang ramai.
Suri dan Amarilis tentu menyadari perbedaan mencolok antara kota ini dan kampung halaman mereka.
"Ini kota besar, Suri. Kita tidak akan menemui para ibu yang berbincang di sore hari di sini. Aku bahkan tak yakin mereka saling kenal satu sama lain" Jawab Amarilis. "Setidaknya karena hal itu, kita bisa aman di sini" Lanjutnya.
"Ooh..." Gumam Suri. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju pusat kota.

Suri asyik memerhatikan para warga lokal yang berkulit pucat dan dengan pakaian yang didominasi warna hitam. Ia bergidik karena mereka lebih terlihat seperti mayat ketimbang warga lokal.
"Suri! Jaga matamu! Jangan melihat berlebihan" Desis Amarilis.
"Habis mereka aneh," Jawab Suri. "Hey, sebenarnya kita mau pergi kemana?" Tanya Suri kemudian.
Amarilis lalu melepas topinya dan mengeluarkan secarik perkamen di dalamnya. Amarilis kemudian menyerahkan potongan perkamen itu kepada Suri.
"Mirr st. 24 B. Apa ini?" Tanya Suri setelah membaca isi perkamen itu.
"Itu alamat kantor imigrasi. Kita harus melapor jika ingin belajar sihir di sini" Jelas Amarilis. Mereka pun melanjutkan perjalanan.

Setelah mengurus dokumen dan mendaftar di sekolah sihir lanjutan, mereka memutuskan untuk segera mencari tempat menginap karena hari mulai gelap dan udara menjadi sangat dingin. Mereka akhirnya menyewa sebuah kamar di salah satu flat dekat sekolah baru mereka. Tanpa mereka ketahui, Master Zaida kemudian menyewa kamar tepat di sebelah kamar mereka.
"Kau tahu? Kita harus segera membeli pakaian baru, kau tahu kan, untuk berbaur. Lagi pula baju-bajuku jadi tidak ada yang muat lagi karena tubuhku jadi dewasa mendadak" Kata Suri sambil menurunkan barang bawaannya dari tas.
"Yeah, bisa kita lakukan besok. Aku capek sekali, aku tidur duluan ya?" Tanya Amarilis. Hari ini memang benar-benar melelahkan.
"Oke. Selamat malam" Kata Suri.
"Malam" Sahut Amarilis sambil menarik selimutnya. Tak butuh waktu lama hingga Amarilis benar-benar terlelap dalam tidurnya. Tak ada teman ngobrol membuat Suri mengantuk. Ia melemparkan tasnya ke lantai di sisi tempat tidurnya dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
Ia menatap langit-langit kamar flat suram itu dan teringat pada ibunya. Biasanya ibunya selalu membawakannya segelas susu coklat hangat sebelum tidur. Ia lantas berpikir, sedang apa ibunya sekarang? Apakah warga desa sudah menemukan pakaian mereka yang terkoyak di dalam hutan? Suri memaksa matanya terpejam dan berusaha untuk segera tidur. Banyak yang harus dilakukan esok.

Master Zaida menyihir sebuah tempayan berisi air dengan tongkatnya. Sekejap, air di dalam tempayan itu bergejolak dan memberinya pemandangan di kamar sebelah, tempat Suri dan Amarilis menginap

:to be continued:

Sabtu, 31 Oktober 2009

Cerita Fiksi: Suri dan Amarilis, dan petualangan kecil mereka. Part 8.

Suri dan Amarilis mempersiapkan segala sesuatunya. Alibi adalah hal utama yang mereka lakukan. Dengan sedikit rasa janggal, Suri berpamitan kepada ibunya, mengatakan ia akan bermain dengan Amarilis di bukit. Ibu Suri pun mempersiapkan sandwich untuk makan siang mereka, dan berpesan agar mereka tidak pulang larut karena salju biasanya turun saat sore hari.
Suri memeluk ibunya erat-erat. Ia tahu, ia mungkin saja tidak akan bertemu dengan ibunya lagi.
"Aku mencintaimu, Mom" Bisik Suri di telinga ibunya. Berharap ia masih bisa mengucapkan kata-kata itu lagi nanti.

"Ayo pergi" Kata Amarilis. Mereka pun berjalan menyusuri jalan setapak menuju perbatasan desa. Terlalu mencolok kalau mereka harus memakai sapu terbang. Selangkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah. Suri terus berhitung di dalam hati. Tepat di langkah ke dua ribu Suri berhenti melangkah. Ia terdiam sesaat.
"Suri? Kenapa berhenti? Jangan bilang kau capek! Ini bahkan masih di perbatasan" Tanya Amarilis.
"Amarilis... Aku mau... Eh, maksudku..." Suri terbata.
"Apa? Kau lapar?" Tanya Amarilis menghampiri Suri.
"Bagaimana kalau aku... Ugh! Sudahlah lupakan saja!" Suri kemudian melanjutkan langkahnya. Dalam hati Amarilis mengerti isi kepala Suri tanpa ia harus mengatakannya. Ia tahu hati sahabatnya sedang goyah. Ia tau Suri sangat mencintai ibunya lebih dari apapun di dunia ini. Ia tahu Suri pasti tidak ingin meninggalkan ibunya.

"Malam ini kita berkemah saja" Usul Amarilis. Ia pun menghentakkan tongkat sihirnya, dan sepasang tenda muncul seketika. Tenda yang sebelumnya memang sudah dibawanya dan disimpan dalam ransel dengan mantera pengecil. Salju mulai turun saat matahari terbenam, titik-titik putih nun halus jatuh perlahan. Membuat cuaca makin terasa dingin.
Setelah menyantap potongan sandwich yang terakhir, sandwich buatan ibu Suri, mereka memutuskan untuk langsung tidur. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Suri di pagi harinya. Amarilispun sengaja membiarkannya. Ia ingin tahu seberapa jauh keteguhan hati Suri untuk mempelajari sihir tingkat atas. Hal yang selama ini didengungkannya. Merekapun melanjutkan perjalanan. Mereka memutuskan untuk pergi ke Androd, sebuah kota besar di seberang pulau. Di sana mereka bisa dengan mudahnya berbaur dengan masyarakat lokal.
"Nama" Gumam Suri.
"Ya?" Tanya Amarilis menegaskan.
"Kita butuh nama baru kan?" Suri menyimpulkan.
"Oh, itu tidak perlu. Tidak akan ada yang mengenal kita di sana" Jawab Amarilis. "Kita kan sudah berubah drastis" Lanjutnya.
"Benar juga" Kata Suri.

Tanpa sepengetahuan mereka, ada seseorang yang mengikuti mereka sejak perbatasan. Memanterai dirinya hingga berwujud seekor burung pipit berwarna gelap.
Tak lain tak bukan, ialah Master Zaida. Ya, Master Zaida memang mengetahui rencana Suri dan Amarilis sejak awal. Ia memalsukan daftar bahan-bahan ramuan penukar jasad milik Amarilis, sehingga, ramuan yang mereka minum sebenarnya hanya ramuan penyamaran biasa. Ia ingin tahu sampai sejauh apa Suri bisa bertindak. Dan tanpa sepengetahuan Master Zaida dan Suri, sebenarnya Amarilis telah menyadari keberadaan burung pipit itu sejak mereka bermalam. Ia yakin itu salah satu penjaga keamanan setempat, namun Amarilis masih belum tahu pasti siapa itu. Menurut Amarilis, wajar saja orang asing seperti mereka diawasi oleh penjaga keamanan setempat. Asalkan mereka bisa bersikap wajar, pasti tak lama lagi burung itu akan pergi. Cara untuk bersikap wajar adalah, dengan tidak memberi tahu Suri.

Setelah berjalan menembus hutan lebat seharian, mereka sampai di tepi selat yang membatasi Xam, kampung halaman mereka dengan Androduic, tempat tujuan mereka. Mereka sedang menunggu perahu yang akan membawa mereka ke Androd, ibu kota Androduic. Suri telah membuat dokumen kependudukan mereka. Mudah saja bagi Suri, dengan mencuri peralatan kerja ayahnya, ia dapat membuat dokumen asli dengan waktu singkat.
"Aku membuat dokumen juga untukmu, mulai sekarang kita saudara" Kata Suri sambil menyerahkan kartu milik Amarilis. "Well, aku memang sudah menganggapmu saudara sih," Lanjut Suri sambil terkekeh yang dibalas senyuman oleh Amarilis. Amarilis pun juga sudah menganggap Suri sebagai kakaknya sejak lama.

Setelah menaiki perahu itu, Amarilis memalingkan wajahnya ke arah daratan Xam. Memastikan apakah burung pipit itu masih di sana. Ternyata sudah tidak ada. Ia lega ternyata gerak-geriknya cukup normal untuk ukuran penjaga keamanan.
"Ada apa?" Tanya Suri.
"Tidak, tadi aku lihat burung pipit cantik sekali" Jawab Amarilis.
Burung pipit itu memang pergi, namun bukan untuk meninggalkan mereka, melainkan telah berganti wujud menjadi seekor ikan, berenang bersama kapal yang mereka tumpangi tanpa mereka sadari.

:to be continued:

Jumat, 30 Oktober 2009

Cerita Fiksi: Suri dan Amarilis, dan petualangan kecil mereka. Part 7.

"Wow" Kata Suri yang mendapati tubuhnya telah berubah menjadi tubuh orang dewasa. Ia asyik memandangi dirinya sendiri di depan cermin hingga ia menyadari sosok lain yang masih tergeletak pingsan di samping kuali yang mengering. Sudah berapa lama mereka pingsan?
"Amarilis! Bangun! Sadarlah! Kau harus melihat ini!" Kata Suri sambil mengguncang-guncangkan tubuh Amarilis.
"Ugh... Kepalaku sakit..." Desah Amarilis saat kesadarannya mulai mengumpul. Ia lalu membelalakkan mata menyadari perbedaan suara yang dihasilkan tenggorokannya.
"Nanti saja pusingnya! Ayo bangun! Lihat dirimu!" Balas Suri. Suaranya juga berbeda.

Amarilis mengerjapkan mata berkali-kali mendapati sosok dewasa di hadapannya.
"Su... Suri?" Tanya Amarilis tak biasa.
"Iya ini aku! Ayo bangun dan lihatlah dirimu di cermin" Nada antusias khas Suri membuat Amarilis yakin sosok tinggi ramping itu memang sahabatnya. Ia menata kakinya yang terasa lemas seolah tak bersendi. Sambil dibantu Suri, ia berdiri perlahan. Suri menyangga tubuhnya dan menarik Amarilis ke hadapan sebuah cermin besar berbingkai kayu dengan ukiran cantik. Amarilis menganga mendapati sosok dewasa di hadapannya.
"Hah?" Hanya itu respon Amarilis melihat bayangan rupawan yang menatapnya di cermin. Sosok gadis cantik berambut lurus gelap sebahu. Kulitnya putih agak pucat dan warna matanya coklat susu.
"Itu kau Amarilis!" Kata Suri. Amarilis mengulurkan tangan ke arah cermin, menyentuhnya. Ternyata bayangan itu melakukan hal yang sama.
"Itu benar-benar aku?" Desis Amarilis.
***

"Menurutmu, berapa usia kita sekarang?" Tanya Suri sambil menyuapkan sesendok penuh bubur kentang. Mereka sedang sarapan setelah beberapa hari pingsan. Karena ibu Suri adalah manusia biasa, dan begitu pula pelayan rumah mereka, Amarilis bisa dengan mudahnya memanterai mereka, sehingga yang mereka lihat tetaplah Suri dan Amarilis kecil.
"Err... Dua puluh mungkin?" Jawab Amarilis.
"Bagus! Itu usia minimalnya! Sekarang kita harus membuat dokumen diri dan mengurus perijinan untuk masuk kelas tingkat lanjut!" Suri berapi-api.
"Kau gila! Pasti semua orang di sekolah curiga! Apa yang terjadi pada 'Suri dan Amarilis'? Mati dimakan singa gunung? Lalu bagaimana dengan keluargamu? Kau mungkin bisa memanterai ibumu tapi ayahmu kan penyihir!" Balas Amarilis. Suri menjatuhkan sendok di genggamannya karena terkejut.
"Lalu kita harus bagaimana?" Suri baru terpikir apa yang dimaksud Amarilis dengan 'sekali maju tidak bisa mundur lagi'. Ada perasaan kalut di hatinya. Apakah dengan ini ia harus meninggalkan keluarganya?
"Kita harus pergi dari kota ini, membuat alibi tentang 'Suri dan Amarilis' lalu memulai hidup baru dengan identitas baru di tempat yang jauh" Usul Amarilis. Suri menatap mata sahabatnya dan menelan ludah.

"Aku sudah memikirkan banyak alibi, tapi dimakan singa gunung itu yang terbaik, kita cukup menyiapkan pakaian yang seperti dikoyak binatang dan darah" Jelas Amarilis. Suri terdiam. Ia berpikir keras. Apa perasaan ibu dan ayahnya saat tahu anak mereka satu-satunya mati dimakan singa?
Berbeda dengannya, Amarilis memang sudah hidup sebatang kara di panti asuhan. Ia tak punya sosok yang dirisaukan. Sedikit rona penyesalan menyeruak memaksa keluar dari lubuk hatinya.

Namun ini adalah pilihannya. Ia sudah memutuskan untuk menjalani kehidupan yang seperti ini. Memenuhi ambisinya menjadi penyihir tersakti dalam waktu singkat. Ia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Memantapkan hatinya.
"Kapan kita mulai?" Tanya Suri saat membuka matanya.
"Secepatnya" Jawab Amarilis mantap.

:to be continued:

Rabu, 28 Oktober 2009

Cerita Fiksi: Suri dan Amarilis, dan petualangan kecil mereka. Part 6.

"Sempurna" Kata Suri puas setelah rencananya dan Amarilis berhasil. Mereka menyihir dua orang manusia non penyihir dan mendandani mereka serupa dengan penyihir dewasa. Akhirnya mereka membeli bahan-bahan yang kurang dari toko perlengkapan dan bahan-bahan ramuan sihir. Uang bukanlah masalah bagi Suri meskipun bahan yang mereka beli tergolong mahal.
Cuaca mendung dan angin musim dingin berhembus kencang. Menerpa kulit wajah mereka yang tak tertutup pakaian tebal. Musim dingin telah sepenuhnya datang. Pegunungan mulai tertutup es. Hingga warnanya seputih kapas. Seolah ada jutaan lembaran kapas halus betebaran di puncak-puncak gunung dan perbukitan.

"Menurutmu tadi penjaga toko itu curiga tidak?" Tanya Amarilis dengan perasaan was-was.
"Entahlah. Siapa peduli? Kita sudah dapatkan bahan-bahannya, ayo ke rumahku" Seru Suri. Merekapun bergegas menuju rumah besar Suri. Rumah tinggal yang kelewat besar untuk keluarga Suri. Suri hanya tinggal bersama Ibunya dan seorang pelayan. Ayahnya bekerja di luar kota sebagai utusan kepala penyihir lokal. Jabatan yang setara dengan Gubernur di dunia manusia.

Mereka bergegas naik ke lantai dua, menuju kamar Suri. Suri kemudian mengunci kamarnya, yang selanjutnya dimanterai oleh Amarilis dengan mantera ilusi. Sehingga setiap ada yang melewati kamar Suri, tidak akan merasa curiga dengan bau atau suara yang mungkin timbul saat mereka meramu dan mengucap mantera-mantera.

Dengan satu sentakan tongkat sihir, Suri memunculkan sebuah kuali batu besar lengkap dengan pengaduknya yang panjang, persis dayung sampan.Proses peramuan berjalan tanpa celah. Amarilis begitu cekatan dan mengerti setiap pengaturan bahan dan takaran. Memasukkan bahan-bahan disaat yang tepat. Tanpa terasa sudah seharian mereka mengurung diri di kamar Suri. Malampun tiba, saat yang tepat untuk melakukan ritual penukar jasad. Dengan kelebihan ilmu yang dimiliki Amarilis dibandingkan anak-anak seusianya, ia dapat dengan mudahnya mencuri sepasang mayat dari pemakaman manusia.

Suri membantu Amarilis menceburkan sepasang mayat yang membusuk itu ke dalam kuali besar. Asap mengepul kehitaman karenanya. Cairan ramuan yang semula berwarna hijau pekat berubah menjadi oranye sesaat setelah mereka melapalkan mantera.

"Beberapa menit lagi ramuannya siap" Kata Amarilis.
"Akhirnya aku bisa jadi penyihir dewasa dengan instan" Seru Suri riang.
"Ini hanya berlaku sekali, tidak ada penangkalnya. Sekali maju tidak bisa mundur lagi. Kau tidak akan menyesal kan?" Tanya Amarilis, memastikan keteguhan sahabatnya. Pertanyaan yang hanya dibalas anggukan lemah sahabatnya.

"Minum" Kata Amarilis sambil menyodorkan segelas penuh cairan kental berwarna oranye kepada Suri. Wajah Suri terlihat masam. Perutnya bagai diremas-remas hanya dengan membayangkan rasa cairan kental itu. Bahan-bahan sihir plus sepasang mayat. Apa rasanya?
"Aku mual" Kata Suri.
"Oh, ayolah! Kau begitu nekad untuk membuat ini tapi tak bernyali untuk minum?!" Balas Amarilis mengejek.
Suri menghela napas, kemudian menjepit hidungnya dengan dua jari. Amarilis tersenyum geli melihat wajah Suri yang biasanya sangat ambisius dan pemberani pucat dengan titik-titik keringat dingin di sekujur dahi dan lehernya.
"Bayangkan saja itu jus labu yang lezat"

:to be continued:

Sabtu, 24 Oktober 2009

Cerita Fiksi: Suri dan Amarilis, dan petualangan kecil mereka. Part 5.

Sudah satu bulan berlalu sejak terakhir kali Suri dan Amarilis berbincang. Sekarang musim dingin. Dan hari ini adalah hari terakhir masuk sekolah sebelum libur musim dingin tiba.

Semua siswa dan guru menyangka Suri dan Amarilis tidak lagi berteman. Ada yang mengatakan mereka berpisah karena Suri terlalu mengatur, ada juga yang mengatakan bahwa Amarilis tidak mau berteman dengan Suri yang tidak pintar. Tetapi di kalangan guru berembus kabar bahwa keretakan persahabatan mereka jelas karena peristiwa sebulan yang lalu. Amarilis yang dinilai sebagai siswa yang pandai dan patuh merasa tercemar nama baiknya karena harus ikut kelas khusus bersama Suri yang memang anak yang nakal. Begitulah gosip ya beredar di kalangan guru dan murid. Tapi kenyataan yang terjadi tidaklah demikian.

"Mereka benar-benar menyangka kita bermusuhan" Begitulah isi surat yang ditulis Suri dan disisipkan diantara buku Amarilis. Amarilis tersenyum membacanya. Dengan sebuah mantera ia langsung memusnahkan perkamen itu.

"Begini, aku sudah memerhatikan gerak-gerik semua guru, ternyata memang hanya Master Roman dan Master Zaida yang benar-benar mengawasi kita" Bisik Amarilis kepada Suri. Mereka sedang bertemu secara sembunyi-sembunyi di belakang panti asuhan, rumah Amarilis.
"Lalu kita harus bagaimana? Kita benar-benar tidak bisa mendapatkan bahan-bahan dari sekolah. Dan... Besok sudah libur musim dingin..." Bisik Suri. Amarilis maju selangkah, mendekati Suri yang sedang menyamar menjadi seekor kumbang berpunggung biru.
"Kau serius ingin tetap membuatnya?" Tanya Amarilis sambil berlutut di atas rumput yang menguning dan kering. Dia berharap sahabatnya itu mau berubah pikiran, dan memilih menunggu sepuluh tahun lagi seperti anak-anak lain.
"Tentu saja!" Jawab Suri yakin. "entah sudah berapa kali kau menanyakan hal itu minggu ini" Lanjut Suri. Amarilis memejamkan mata. Mencoba menasihati Suripun akan percuma. Suri adalah tipe orang yang keras kepala. Sekali memutuskan sesuatu, tak akan bisa berubah.

"Aku ada ide" Desah Amarilis. Akhirnya Amarilis memutuskan untuk menemani Suri apapun yang terjadi. Suri yang selama ini mendukungnya, melindunginya. Inilah saatnya ia membalas budi Suri, dengan ilmunya, dengan kepintarannya. Walau jika sekali lagi saja ketahuan, hukuman yang lebih berat menanti mereka. Hukuman yang mungkin malah membuat mereka tidak akan mempelajari sihir tingkat tinggi sekalipun. Ramuan penukar jasad adalah ramuan ilegal, membutuhkan dua jasad manusia.

Amarilis tentu sudah memikirkan hal ini. Ia dan Suri tentu tidak akan membunuh untuk mendapatkan jasad, tentu saja tidak. Itu adalah pelanggaran besar. Mereka memutuskan akan menggunakan jasad orang yang memang sudah mati, tanpa harus membunuh.

Amarilis mengusulkan sebaiknya mereka menyihir orang dewasa dan mengendalikannya. Setelah mereka membelikan bahan-bahan untuk ramuan, Amarilis akan membuat mereka melupakan kejadian yang sudah ada dan melupakan mereka juga. Mantera ini baru saja dipelajari Amarilis satu minggu ini.
"Amarilis, sekali lagi... Kau jenius!" Seru Suri dari sosok kumbang punggung biru.

:to be continued:

Jumat, 23 Oktober 2009

Cerita Fiksi: Suri dan Amarilis, dan petualangan kecil mereka. Part 4

"Oh tidak, tidak... Aku tidak mau!" Kata Amarilis saat Suri memintanya melapalkan mantera penyamaran. Ia memaksa Amarilis untuk melanjutkan proyek pembuatan ramuan mereka.
Mereka sedang duduk di bawah pohon maple yang besar. Mereka baru saja selesai menjalani kelas khusus sebagai hukuman.

"Ayolah Amarilis, masa hanya karena hampir ketahuan kau langsung kapok?" Tanya Suri tak percaya. Tentunya ia masih berambisi untuk membuat ramuan penukar jasad ilegal.
"Bukan begitu, Master Roman dan yang lainnya pasti akan lebih mempererat penjagaan setelah peristiwa yang kemarin!" Papar Amarilis. "Kita tidak mungkin mencuri dari gudang lagi. Dan memangnya kau tidak merasa aneh pada bahan-bahan yang berhasil kita curi, tapi hilang begitu saja?" Lanjut Amarilis. Ia memikirkan setiap kemungkinan yang ada. Angin musim gugur yang sedingin es menerpa wajah Suri.

"Apa maksudmu?" Tanya Suri tak mengerti.
"Ini baru terpikir semalam. Kurasa semua bahan-bahan di dalam gudang sudah diberi mantera, sekali berpindah tangan, akan langsung kembali lagi ke tempatnya semula" Jawab Amarilis sambil menyerahkan secarik perkamen yang disimpannya di dalam topi kerucut khas penyihir. Berisi ringkasan analisa yang didapatnya dari buku "Panduan Mantera Pengikat Tingkat Lanjut"
Suri membacanya dengan saksama.

"Kalau begitu Master Roman sudah tahu kita mencuri?" Tanya Suri.
"Entahlah, tapi kalau dia memang sudah tahu, mengapa kita hanya diberi hukuman masuk kelas khusus? Kurasa dia menunggu kita melakukannya lagi" Duga Amarilis.
"Maksudmu, ini jebakan?" Tanya Suri.
"Bisa jadi kan? Memangnya kau tidak tahu gosip bahwa Master Roman itu senang mengeluarkan anak-anak dari sekolah" Pernyataan Amarilis membelalakkan mata Suri.

"Jadi dia memberi kita hukuman ringan agar kita lengah dan mencoba mencuri lagi?" Simpul Suri. Amarilis menganggukkan kepala.
"Kita tidak boleh ke gudang dan mencuri lagi" Lanjut Suri. "Kita harus mendapatkannya dari tempat lain"
"Jadi kau tetap ingin melanjutkan ini?" Tanya Amarilis takjub. Untuk urusan seperti ini Suri benar-benar bersemangat.
"Kita hanya kekurangan tiga bahan, mana mungkin aku menyerah! Kau ikut kan?" Tanya Suri memastikan. Amarilis menganggukkan kepala terpaksa. Sebenarnya jika ia bisa memilih, tentunya ia akan memilih untuk menunggu sepuluh tahun lagi hingga benar-benar dewasa dan diperbolehkan mempelajari sihir yang sesungguhnya, dibandingkan membuat ramuan penukar jasad seperti yang diinginkan Suri.

"Kita tunggu dulu sampai keadaan normal lagi, setidaknya sampai kita menyelesaikan hukuman" Saran Amarilis.
"Kau benar... Baiklah, kita pikirkan dulu cara alternatif selain mencuri dari gedung sekolah" Kata Suri.
"Ya, dan lebih baik kita tidak terlihat bersama-sama untuk sementara waktu. Setuju?" Gagas Amarilis.
"Oke" Jawab Suri sambil bangkit dan kemudian meninggalkan sahabat baiknya itu.

:to be continued:

Rabu, 21 Oktober 2009

Cerita Fiksi: Suri dan Amarilis, dan petualangan kecil mereka. Part 3.

"Ka... Kami memang ingin mengambil sesuatu, Master... Suri berbohong" Aku Amarilis. Pernyataan yang membuat Suri membelalakkan mata. Apakah Amarilis berniat membeberkan rahasia pembuatan ramuan penukar jasad mereka? Jantung Suri berdetak kencang menanti penjelasan Amarilis berikutnya.

Master Roman menyunggingkan senyum sinisnya karena ia pikir ia baru saja berhasil membuat dua orang siswa sekaligus mengaku telah melakukan pelanggaran.

"Se... Sebenarnya... Bukan Suri... Tapi saya" Kata Amarilis. Suri kembali dibuat terkejut. Apa maksud perkataan Amarilis? "Tongkat sihir saya jatuh... Saya meminta bantuan Suri untuk mencari... Karena... Besok ada ujian dan saya butuh tongkat saya" Jelas Amarilis.
Suri menghela napas lega. Tapi tatapan ganas Master Roman belum mengendur sedikitpun.

"Kau berbohong" Desak Master Roman.
"Hentikan Roman!" Bentak Master Zaida. "Amarilis tidak berbohong, aku menemukan ini selagi dalam perjalanan kemari" Kata Master Zaida sambil mengeluarkan sebuah benda panjang berwarna kelabu. Sebuah tongkat sihir.

"Tongkatku!" Seru Amarilis sambil bangkit dan berjalan ke arah Master Zaida. Master Zaida membungkuk dan menyerahkan tongkat itu kepada Amarilis.
"Anak ini tidak berbohong, Roman" Kata Master Zaida.
Wajah Master Roman menggambarkan ketidak percayaan. Namun kemudian senyuman sinis kembali mengembang di wajahnya.

"Amarilis mungkin tidak berbohong, tapi anak ini jelas telah berbohong. Mana kutahu apakah dia memiliki tujuan lain selain mencari tongkat?" Kata Master Roman sambil membungkuk dan menatap dalam-dalam kedua mata Suri.
"Saya memang berbohong, Master. Maafkan saya. Tapi ini saya lakukan untuk melindungi Amarilis. Dia takut diberi hukuman karena menghilangkan tongkat sihirnya" Suri membuat alibi yang sempurna. Amarilis mengiyakan. Tatapan Master Roman tetap dingin dan tajam. Ia tetap akan menjatuhkan hukuman.
"Kalau ada yang harus dihukum, le... lebih baik sayalah orangnya" Kata Amarilis memberanikan diri.
"Tidak. Kalian berdua membuat kesalahan karena menyelinap masuk ke sekolah pada malam hari. Bagaimana kalau kusangka kalian mata-mata? Aku pasti sudah melayangkan mantera penghancur" Kata Master Roman. Suri dan Amarilis membelalakkan mata. Tubuh mereka bergidik ngeri, membayangkan tubuh mereka bisa saja tinggal serpihan seandainya Master Roman tidak mencari tahu siapa mereka. "Kalian akan ikut kelas khusus. Hanya kalian berdua" Kata Master Roman. Suri dan Amarilis pasrah dengan keputusan kepala pengajar itu. Master Zaida pun tak bisa membantah titah Master Roman. Master Roman kemudian pergi meninggalkan mereka.

"Bersyukurlah dia tidak mengeluarkan kalian. Dengar baik-baik, aku tidak akan membela kalian untuk yang kedua kalinya. Amarilis,itu sungguh ide yang bagus, menjatuhkan tongkat sihir di sekitar lorong yang mungkin kutemukan" Kata Master Zaida. Amarilis tersenyum.
"Itu trik!" Seru Suri. "kau jenius!" Lanjutnya.

"Dengar ya, aku tidak tahu dan tidak mau tahu apa sebenarnya alasan kalian menyelinap ke sekolah. Suri, kuharap kau jera, ini pelanggaran!" Master Zaida memarahi Suri dan Amarilis.
"Maafkan kami" Kata Suri dan Amarilis berbarengan
"Ingat ya! Tidak ada yang kedua kali. Sekarang, kuantar kalian pulang" Suri dan Amarilis mengangguk dan mengikuti Master Zaida meninggalkan gedung sekolah.

Kelegaan melingkupi hati Suri dan Amarilis karena dibela dan berhasil lolos dari hukuman yang lebih berat. Dalam hati, Suri tentu saja tidak akan menyerah. Bagaimanapun caranya, dia dan Amarilis akan tetap membuat ramuan penukar jasad.

:to be continued:

Cerita Fiksi: Suri dan Amarilis, dan petualangan kecil mereka. Part 2.

"Master Roman?!" Kata Suri dan Amarilis berbarengan menyadari sosok yang memergoki mereka. Master Roman adalah kepala pengajar di sekolah mereka. Master Roman membuka tudungnya, memperlihatkan wajah tak bersahabatnya. Matanya memandang marah ke arah Suri dan Amarilis. Kulit pucatnya terlihat bagai patung pualam diterpa cahaya keperakan bulan.

"Sedang apa kalian malam-malam begini?" Tanya Master Roman. Suri dan Amarilis saling bertukar pandangan cemas. Mereka belum menyiapkan alasan sebelumnya. Pandangan Master Roman semakin sinis menanggapi wajah pucat kedua muridnya itu. Tanpa menunggu penjelasan dari Suri maupun Amarilis yang terkenal sebagai siswa berprestasi, Master Roman langsung membekukan tubuh mereka dan menyeret mereka dengan mantera.

Master Roman membawa mereka ke salah satu ruang kelas di dalam gedung utama. Master Roman kemudian melapalkan mantera penangkal. Seketika tubuh Suri dan Amarilis kembali seperti semula.
"Sebaiknya kalian memiliki alasan" Kata Master Roman dengan nada sinis.

Suri mencuri pandang ke arah Amarilis yang sedang menundukkan kepala karena ketakutan. Ia tahu, hanya dia lah yang mampu bicara saat ini.
"A... Saya ketinggalan salah satu buku... Dan meminta Amarilis menemani saya" Jawab Suri.
"Malam-malam begini? Kenapa tidak besok saja?" Tanya Master Roman.
"Ya, tapi saya ada ujian besok. Saya butuh buku itu sekarang" Kata Suri lagi.
"Aku tidak melihat kalian masuk ke kelas. Apakah bukumu tertinggal di dalam gudang penyimpanan?" Tantang Master Roman. Suri membelalakkan mata. Benar juga. Ia harus berhati-hati membeberkan alibinya.

"Karena saya rasa... Saya menjatuhkannya di lorong saat perjalanan pulang, Master" Jawab Suri tak gentar.
"Jangan berbohong! Aku paling benci melihat penyihir kecil yang sok!" Bentak Master Roman.
"Buku saya benar-benar tidak ada, Master. Saya tidak berbohong" Kilah Suri. Dalam kepalanya, ia menemukan titik terang. Ia pernah meninggalkan buku teksnya di loker. "saya lupa apakah saya menjatuhkannya atau saya tinggalkan di loker" Kata Suri.

Master Roman mendelikkan mata ke arah Suri, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Amarilis yang gemetaran ketakutan.

"Nona Amarilis, benarkah apa yang dikatakan Suri?" Tanya Master Roman. Amarilis masih menunduk dengan bahu yang gemetaran. "Aku bertanya padamu, Nona" Tegas Master Roman. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya dan seorang pria muda datang memasuki ruang kelas. Suri ternganga. Ia tidak tahu sekolah dijaga banyak sekali orang pada malam hari. Sang wanita adalah Master Zaida, guru perhitungan dan ilmu tata surya, sementara si pria muda adalah penjaga laboratorium ramuan, orang yang sering dikelabui Suri dengan sihirnya, tentu saja untuk mencuri beberapa bahan ramuan sihir. Ternyata menyelinap masuk memang bukan ide yang bagus. Ia lantas menyesali kengototannya untuk menyelesaikan ramuan penukar jasad malam ini juga. Kemudian ia melirik ke arah Amarilis yang masih gemetaran.

"Apa yang terjadi, Roman? Suri? Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Master Zaida sambil berjalan mendekati Suri. Ia menatap Suri dengan bingung. Suri adalah anak dari adik iparnya.
"Mereka mengendap-endap masuk dan berusaha membuka segel gudang penyimpanan" Jelas Master Roman. "aku tidak dapat meminta kejujuran dari anak itu" Lanjut Master Roman. Master Zaida memandang takjub dan tak percaya ke arah Suri. Walaupun memang agak nakal, tapi Suri dikenal sebagai anak yang baik di keluarganya.

"Nona Amarilis, saya menantikan keterangan anda" Kata Master Roman menanggapi kepasifan Amarilis. Tapi tetap tidak ada jawaban.
"Tentu sebagai murid yang pandai kau mengerti betul peraturan sekolah ini kan? Tentang jam malam? Area larangan?" Tanya Master Roman sekali lagi. Amarilis tetap diam saking takutnya.

"Anda menakutinya, Master" Tuding Suri. Master Roman melayangkan tatapan sinisnya ke arah Suri.
"Kenapa harus takut kalau tidak bersalah?" Tantang Master Roman.
"Karena Amarilis memang begitu, dia gampang takut" Jelas Suri.
"Diam! Aku tidak sedang bertanya padamu" Bentak Master Roman.
"Ka... Kami memang ingin mengambil sesuatu, Master... Suri berbohong" Aku Amarilis. Pernyataan yang membuat Suri membelalakkan mata. Apakah Amarilis berniat membeberkan rahasia pembuatan ramuan penukar jasad mereka? Jantung Suri berdetak kencang menanti penjelasan Amarilis berikutnya.

:to be continued:

Cerita Fiksi: Suri dan Amarilis, dan petualangan kecil mereka. Part 1.

Tujuan gua membuat blog, sebenernya adalah supaya gua punya wadah untuk menyalurkan hobi nulis gua. Gua suka banget nulis. Entah itu cerpen, humor, atau kadang, gua juga sering mengupas suatu hal.

Nah, entri pertama gua hari ini gua akan menceritakan kisah tentang dua orang penyihir yang bernama Suri dan Amarilis. Semoga dapat menghibur :)

Pada suatu petang, sepasang penyihir muda sedang belajar membuat ramuan. Di sebuah gubug reot dan suram, mereka berdebat seputar bahan-bahan ramuan yang ternyata hilang.

"Bagaimana mungkin hilang? Aku sudah memasukkan semuanya ke dalam tas!" Bentak Suri. Ia merebut tas dalam genggaman Amarilis dan mengeluarkan semua isinya. Hanya ada pena, perkamen dan botol tinta. Tidak ada bahan yang mereka butuhkan; jamur jeruk, kaki lalat, dan bulu telinga gajah.
"Aku juga tidak tahu, seingatku juga tidak ada yang tertinggal" Sahut Amarilis dengan wajah pucat. Ia tahu mereka tidak mungkin kembali ke sekolah untuk mengambil kembali bahan-bahan. Sekolah sudah dikunci, terlebih lagi, mereka sebenarnya mendapatkan bahan-bahan itu dengan cara mencuri. Mereka mengendap-endap dan menyamar untuk mencuri bahan-bahan ramuan di gudang sekolah saat semua guru sedang mengadakan rapat bulanan.

"Oh tidak! Ini kan kesempatan satu bulan sekali!" Keluh Suri sambil membanting tas dalam genggamannya.
Amarilis melepas topi kerucutnya dan mengeluarkan secarik perkamen di dalamnya.

"Kita kehilangan separuh bahan" Desah Amarilis sambil membaca lembaran perkamen di tangannya.
"Kita kehilangan apa?" Tanya Suri.
"Jamur Orange musim panas, delapan kaki kanan lalat, dan sepuluh gram bulu telinga gajah" Jawab Amarilis.
"Kita harus kembali ke sekolah kalau mau melanjutkan... Toko bahan-bahan ramuan tidak akan menjual bahan-bahan itu pada penyihir amatir seperti kita" Kata Suri sambil merapikan perlengkapan ramuan lainnya.
"Kau gila? Kita bisa ketahuan kalau menerobos masuk ke gedung sekolah" Amarilis menolak ajakan Suri. "sudah kubilang, membuat ramuan penukar jasad bukan ide bagus" Amarilis menyadari bahwa ia tak seharusnya menerima ajakan Suri sedari awal.
"Kau ini ngomong apa? Kalau kita berhasil membuat ramuan ini, kita bisa dengan mudah menyamar untuk melakukan sihir terlarang!" Sahut Suri bersemangat. Sudah sejak lama dia ingin sekali melakukan sihir tingkat atas. Dia sudah bosan akan larangan dan batasan usia. "memangnya kau tidak kesal? Kita hanya boleh melakukan sihir simpel seperti mengupas buah, menggerakkan benda dan menyalakan perapian?" Tanya Suri kepada teman baiknya itu.
"Tentu saja" Kalimat Suri menyadarkannya akan keinginan terpendam menguasai sihir tingkat atas yang sangat dibatasi oleh para penyihir dewasa.
Akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke sekolah.

Bangunan sekolah yang didominasi oleh batu-batuan terlihat sangat menyeramkan karena hanya diterangi cahaya perak rembulan.
Suri dan Amarilis mengenakan jubah panjang bertudung mereka dan mengendap-endap melewati pagar tembok yang berlubang. Pintu rahasia itu memang hanya diketahui mereka berdua. Dan satu-satunya jalan masuk yang tidak dilindungi segel khusus.
Mereka langsung berlari melintasi lapangan gelap menuju lorong yang menghubungkan gedung utama dengan gudang penyimpanan yang letaknya lebih ke dalam, masuk ke bagian belakang gedung.

Mereka terus berlari, tanpa mereka ketahui ada yang mengamati gerak-gerik mereka. Pria bertudung dengan tongkat sihir ditangannya menyangka mereka adalah penyusup dari sekolah sihir lain. Antara satu sekolah dengan sekolah sihir lain memang sangat menjunjung tinggi persaingan. Mulai dari cara bersaing yang bersih sampai cara-cara kotor untuk saling menjatuhkan reputasi.

Suri dan Amarilis tiba di depan pintu gudang dengan napas tersengal. Jantung mereka berdegup kencang, bukan hanya karena berlari sepanjang jalan, tapi juga karena takut ketahuan.
"Kalau sampai ketahuan matilah kita" Kata Amarilis menyesali keputusannya.
"Berhasil tidaknya itu hasil akhir, yang penting berusaha" Suri menyela kebimbangan sahabatnya.
Sebenarnya Amarilis tidak terlalu optimis akan tindakan mereka, hanya saja, rasa hormatnya terhadap Suri membuatnya tetap bertahan. Suri selama ini sudah seperti kakak yang selalu ada dan melindungi Amarilis dari gangguan teman-teman sebayanya. Amarilis memang tipe anak lemah yang selalu jadi sasaran keisengan teman sebaya. Dibandingkan dengan Suri yang anak orang kaya, Amarilis hanyalah anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan. Dia selalu minder dalam bergaul sampai akhirnya ia bertemu dengan Suri. Sejak saat itulah dia tidak terlalu memikirkan status sosialnya dan belajar lebih giat.

"Hey, Amarilis. Kau kan pintar, kau pasti tahu mantera untuk membuka kunci pintu ini" Kata Suri membuyarkan lamunan Amarilis tentang masa lalunya.
"Eh... Ya... Hmm... Ini segel berlapis..." Kata Amarilis sambil meraba pintu gudang yang terlihat biasa-biasa saja itu. Amarilis mengerutkan dahi, ia tidak pernah menghadapi segel berlapis serumit ini sebelumnya.
"Lalu?" Tanya Suri.
"Entahlah... Akan kucoba..." Amarilis mencoba mengingat-ingat segala macam mantera pelepas segel. Suasana hening sementara Suri membiarkan Amarilis berpikir. Tanpa disadari pria bertudung itu sudah berdiri di belakang mereka.

"Kalian?!" Bentak pria bertudung itu. Sontak Suri dan Amarilis melompat saking kagetnya.
"Master Roman?!" Kata Suri dan Amarilis berbarengan menyadari sosok yang memergoki mereka.

:to be continued: