Tampilkan postingan dengan label Fanfiction: The Lion's Call. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fanfiction: The Lion's Call. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 September 2010

Fanfiction: The Lion's Call

Keterangan usia karakter:
Peter Pevensie: 17
Susan Pevensie: 16
Edmund Pevensie: 14
Lucy Pevensie: 12
Nuria Harewood: 16

Disclaimer: semua yang berhubungan dengan Narnia adalah milik C S Lewis :)

Chapter 7

“King Nain!” Sapa Peter saat menjupai raja Archenland itu. Beberapa tahun pasti sudah berlalu karena wajah King Nain terlihat lebih tua dari terakhir kali Peter menemuinya.
“Astaga! High King Peter? King Edmund?” Nuria memerhatikan ketiganya terlihat akrab dan mengobrol dengan penuh senyum. Sekali lagi dia merasa terasing dibuatnya.

Setelah beberapa saat terlibat perbincangan, dengan King Nain, ketiganya menerima jamuan makan, dan kemudian dipersilakan menempati sebuah tenda yang lumayan besar dibandingkan tenda-tenda prajurit. Tiga buah dipan berlapiskan matras terjejer di sisi kanan dalam ruang tenda.
“Kau kelihatan lelah, berbaringlah” Kata Edmund kepada Nuria yang dibalasnya dengan anggukan. dikelilingi banyak sekali orang asing, mendengarkan mereka membicarakan hal-hal yang sama sekali tak dimengertinya memang membuat kepala Nuria sedikit pusing. Edmund kemudian menghampiri kakaknya yang sedang duduk termenung di sisi lain tenda. Menurut penuturan King Nain, masa kepemimpinan King Caspian telah berlangsung selama tiga tahun, yang berarti, sudah tiga tahun waktu Narnia semenjak para Pevensie kembali ke dunia manusia. Dan tepat di tahun ketiga sepeninggal Pevensie bersaudara, seorang Tisroc Calormen (Tisroc adalah sebutan untuk penguasa dalam bahasa bangsa Calormen) menyatakan peperangan pada Archenland. Alasannya. Yang sampai sekarang tidak dimengerti Peter, bangsa Calormen ingin merebut kekuasaan atas kerajaan Archenland.
Memang satu tahun terakhir ini, masih menurut King Nain, Calormen sedang ditimpa musibah yang tak berkesudahan, badai pasir yang datang ke wilayah mereka menjadi berpuluh-puluh kali lebih kuat dari yang biasanya, kekeringan melanda dimana-mana, dan ikan-ikan seperti menjauhi perairan mereka. Dalam kepanikan itu, Tisroc Calormen mengirim sebuah surat resmi kepada Archenland, meminta bantuan untuk mengirimkan bahan makanan dan air ke Calormen. Bukannya Archenland tidak membantu, mereka sudah mengirimkan bantuan makanan, bahkan Narnia yang letaknya lebih jauh ke Utara pun ikut mengirimkan bantuan ke Calormen. Namun, perjalanan ke Calormen yang sangat berat; padang pasir bersuhu ekstrem, rute yang membingungkan, membuat beberapa kelompok pengirim bantuan tak samapai ke Calormen. Tisroc Calormen menganggap ini sebuah penghinaan, membunuh para kelompok pengantar bantuan yang tersisa dan menyatakan perang terhadap Archenland.

“Yang tidak kumengerti Ed,” Kata Peter saat menyadari adik laki-lakinya sudah duduk di kursi kayu di sebelahnya. “bisa-bisanya Calormen menyatakan perang ditengah keadaan mereka yang sebenarnya sudah krisis”
“Kurasa Pete, well, ini hanya dugaanku saja. King Nain tak menceritakan yang sebenarnya terjadi kepada kita” Pernyataan Edmund membuat Peter terbelalak.
“Maksudmu, King Nain membohongiku?”
“Aku tidak bilang dia berbohong Pete. aku merasa dia hanya tak menceritakannya secara lengkap, seperti ada yang sengaja disembunyikannya. Mungkin terdengar konyol, tapi aku bisa merasakannya” Aku Edmind. Peter menatap adiknya lekat-lekat.
“Itu mungkin saja… mungkin saja dia memang tak menceritakan semuanya, dia punya hak untuk itu. Maksudku, ini konflik kerajaannya dengan kerajaan lain, dia berhak memberikan keterangan palsu kepada pihak yang sama sekali tak terlibat seperti kita, itu bukan masalah”
“Akan jadi masalah Pete…” Edmund memberi kesimpulan. “kalau keterangan palsu itu digunakan untuk mendapatkan dukungan dari kita” Peter menolehkan wajahnya ke arah Edmund, mencermati setiap kata yang baru saja diucapkan saudara laki-lakinya. Ia tak bisa berargumen, pernyataan Edmund terlalu masuk akal. Prajurit perang Narnia memang dikenal sangat kuat. Bisa saja King Nain memprovokasi mereka berdua, memempatkan seolah-olah Calormen yang salah, untuk mendapat tambahan kekuatan dari Narnia.
“Tapi… Archenland berhubungan baik dengan Narnia….aku tak habis pikir kalau King Nain benar melakukannya” Peter menggelengkan kepalanya tak percaya.
“Itu kan hanya dugaanku saja” Edmund menambahkan. “kurasa Pete, kita lebih baik tak berlama-lama di sini… kita harus secepatnya pergi ke Narnia. Aku akan lebih mempercayai seekor faun Narnia dibandingkan seluruh pasukan di perkemahan ini”
“Kau benar” Peter menyetujui saran adik laki-lakinya.

Nuria mendengar pembicaraan kedua Pevensie sambil berbaring di atas dipan beralaskan matras.
“Kita akan pergi?” Tanya Nuria. Ia merasa sangat rileks dengan posisi berbaringnya saat ini dan tidak merasa perlu untuk bangkit hanya demi berbicara dengan Peter dan Edmund. Walaupun mereka berdua raja sekalipun.
“Ya, kuputuskan memang sebaiknya begitu” Jawab Peter.
“Tapi kukira kita baru saja sampai….” Desah Nuria, ia tahu suaranya itu hanya terdengar olehnya saking pelannya. Ia memejamkan mata meresapi perasaan nyaman saat berbaring di matras saat ini. Ia tahu ia tak mungkin tidur di atas matras dalam perjalanan menuju Narnia. ia merasakan ada bayangan seseorang disisinya, dengan spontan Nuria membuka matanya, ternyata itu Edmund.
“Peter tidak bermaksud kita harus pergi ‘sekarang’ kok! Kita harus tetap terlihat normal, setidaknya aku tahu hari ini pasukan Archenland memang berencana melanjutkan perjalanan pulangnya. Kita ikut mereka, lalu berpamitan di tengah jalan dan melanjutkan perjalanan bertiga ke Narnia” Kata Edmund sambil membaringkan tubuhnya di atas dipan matras di samping Nuria.
“Lalu kita harus melakukan apa agar tetap terlihat ‘normal’?” Tanya Nuria. dia belum pernah berada dalam situasi seperti ini sebelumnya.
“Kurasa tidur sebentar sebelum jam makan siang terdengar ‘normal’” Kata Edmund sambil menyeringai. Nuria mengembangkan senyuman di wajahnya.
“Kupikir kau akan menyuruhku memakai pakaian kuno supaya terlihat ‘normal’” Dan mereka tertawa kecil bersama.

:tbc:

A/N
first of all
i want to say sorry for late update :(
dan! gua juga minta maaf karena di chapter sebelumnya gua salah menulis nama raja Archenland orz
harusnya King Nain bukan King Nian.
sooo sooorrrryyyy for that!

Sabtu, 07 Agustus 2010

Fanfiction: The Lion's Call

Keterangan usia karakter:
Peter Pevensie: 17
Susan Pevensie: 16
Edmund Pevensie: 14
Lucy Pevensie: 12
Nuria Harewood: 16

Disclaimer: semua yang berhubungan dengan Narnia adalah milik C S Lewis :)

Chapter 6


“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Edmund kepada Nuria. Mereka sudah menyelesaikan makan malam dan Peter sudah tertidur lelap. Nuria memalingkan wajahnya dari danau di hadapannya ke arah Edmund. Mata hitam pekatnya memantulkan cahaya kekuningan dari api unggun. Nuria menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
“Aku hanya… kau tahu… mungkin saja kalau aku menenggelamkan diri di tengah sana lagi, seperti siang ini… mungkin saja kan aku kembali?” Tanya Nuria. Edmund memerhatikannya dengan saksama.
“Mungkin saja” Kata Edmund akhirnya sambil menganggukkan kepalanya. “tapi kalau salah, kau mati. Simpel?” Nuria membelalakkan mata mendengarnya. “soalnya aku tak berniat menceburkan diri ke sana lagi dan menolongmu” Lanjut Edmund sambil merebahkan tubuhnya diatas rerumputan setebal karpet bludru yang lembab. Nuria kembali memandangi danau di hadapannya, melipat kakinya di depan dada dan memeluknya. Ia memikirkan ayahnya, satu-satunya anggota keluarga yang ia punya. Sedang apa dia sekarang? Apa dia mencarinya dan membatalkan perjalanan ke Amerika atau malah dia sudah meninggalkannya dan berangkat sendirian? Berapa lama dia harus berada di tempat asing ini?
“Aku takut” Desahnya. tak tahu apakah Edmund sudah terlelap dan tak mendengarnya. Tapi ternyata Edmund masih terjaga dan kembali bangkit dari rebahnya dan duduk merapatkan jarak dengan Nuria. Nuria memalingkan wajahnya lagi ke arah Edmund dan mendapati Edmund sedikit mengembangkan senyum untuknya.
“Kau akan baik-baik saja, aku janji” Kata Edmund dengan suara pelan yang menenangkan. “sudah larut, cobalah untuk tidur, besok akan melelahkan sekali” Katanya kemudian. Nuria menganggukkan kepala dan merebahkan dirinya. Edmund melakukan hal yang sama tepat di sebelah Nuria.
“Selamat malam”

Jauh lebih ke tengah hutan, delapan pleton tentara kerajaan Archenland pengiring raja Archenland itu sendiri, melintasi hutan dengan langkah gontai. Mereka baru saja melakukan perjalanan menuju Calormen. namun di luar dugaan, badai pasir yang melanda mencegah mereka melangkah lebih jauh ke Calormen. sebagai hasilnya, mereka hanya mendapatkan rasa lelah yang luar biasa akibat badai dan suhu gurun pasir yang luar biasa tinggi pada siang hari dan juga luar biasa rendah saat malam tiba.
King Nain memerintahkan pasukannya untuk berhenti dan beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan mereka kembali ke istana pada paginya. Sebenarnya ia ingin sekali memaksakan perjalanan ini karena jarak istana yang sudah dekat, tetapi ia tahu betul pasukannya tak cukup tidur beberapa hari kebelakang. Mereka pun mendirikan kemah dan bermalam di salah satu padang rumput dekat danau tempat Peter dan yang lainnya bermalam. Ketika salah seorang prajurit berjalan ke arah danau untuk mengambil air, ia mendapati ada api unggun yang menyala dan melaporkannya kepada atasannya. Dengan segera, beberapa orang tentara sekaligus kembali ke danau itu dan memerhatikan dengan saksama ada tiga orang yang sedang tertidur dengan lelapnya. mereka lalu kembali ke perkemahan dan melaporkannya kepana King Nian. Setelah mendengarkan penjelasan tentang cirri-ciri ketiga orang yang ditemui prajuritnya, King Nian merasa mereka bukanlah mata-mata Calormen dan memerintahkan untuk membiarkan saja ketiga pengembara itu tertidur dan meminta dua orang ksatrianya menemui mereka pagi harinya.
Nuria mengerjapkan mata berkali-kali, menghilangkan selaput bening dari matanya. ada dua sosok bayangan besar dihadapannya, berwarna keperakan mengilap, memantulkan sinar-sinar matahari pagi. Nuria membelalakkan mata saat menyadari dua bayangan berkilauan itu adalah dua sosok tinggi besar berbaju zirah lengkap dengan pedang yang menggantung di pinggang mereka. Spontan, Nuria menjerit sekerasnya. Membangunkan Peter dan Edmund sekaligus.
Dengan sigap, kedua Pevensie berdiri, Peter melangkah ke depan Nuria dan Edmund menarik lengan Nuria untuk menyeretnya agar berdiri di belakang punggung Edmund. Nuria meremas bagian belakang pakaian Edmund dan menyembunyikan wajahnya di balik punggung Edmund, gemetaran. Ini adalah pertama kalinya ia melihat dua orang dengan baju perang lengkap seperti itu dan kesannya tentu bukan kesan menyenangkan. Kedua ksatria yang juga dibuat kaget oleh jeritan Nuria sudah dalam posisi siaga dengan pedang di tangan.

Setelah beberapa detik yang menegangkan, kedua ksatria itu menurunkan todongan pedangnya. Ketiga remaja dihadapan mereka tak trlihat berbahaya, apalagi mereka tak bersenjata sama sekali. Keduanya kembali memasukkan pedang mereka kembali ke sarungnya.
“Maaf atas insiden kecil ini, kami sama sekali tidak bermaksud untuk menakuti kalian” Kata salah seorang tentara dengan rambut pirang bermata biru. Ksatria, lebih tepatnya. Sikap mereka yang sopan disadari oleh Peter.
“Kalian sedang berada di wilayah kerajaan kami, Archenland. kalian… kelihatan tersesat, dari mana asal kalian?” Kata seorang lagi, yang kelihatan lebih tua dari yang berambut pirang tadi. ia menuntukkan lambang kerajaan Archenland, berupa sebuah salib merah dengan latar kuning. Setelah melihat lambang itu, kedua Pevensie menghela napas lega.
“Perkenalkan, para ksatria yang terhormat, Aku Peter. Ini adalah adikku, Edmund, dan… Nuria. kami berasal dari Narnia” Kata Peter penuh wibawa. kedua tentara itu saling bertukar pandang.
“Aku yakin, raja kalian akan mengenali kami, Tuan-tuan. bersediakah kalian membawa kami menemui raja kalian? Aku yakin raja kalian mengenal kami” Tanya Edmund. Edmund sadar, penampilan mereka tidak akan membuat dua ksatria ini percaya kalau mereka adalah raja Narnia. Nada suaranya yang penuh dengan keagungan sempat membuat Nuria terpesona.
“dia kan raja, dia kan raja, mereka kan raja” Gumam Nuria dalam hati. Seorang raja sudah sepantasnya berperilaku seperti itu.
“Kami sekali lagi minta maaf, wahai para pengembara, kalian begitu santun, namun kami tak punya kuasa untuk mempertemukan kalian dengan raja kami” Kata seorang ksatria yang berambut pirang, yang lebih muda. Gaya bahasa mereka membuat Nuria mengernyit. Tahun berapa sih ini?
“Tapi mungkin, pimpinan kami bisa” Kata yang lebih tua. “mari, ikut dengan kami” Kata ksatria itu. Merekapun mengikuti kedua ksatria itu ke perkemahan mereka.

Peter dan Edmund dibuat terperangah oleh tenda-tenda ksatria disana. mereka baru saja selesai mempak kembali barang-barang bawaan mereka.
“Archenland berperang?” Tanya Peter pada kedua orang di depan mereka. Tentu saja Peter tahu perkemahan semacam ini. Sementara Nuria dibuat terbengong-bengong dengan pemandangan yang baru pertama kali dilihatnya. “dengan siapa?” Lanjut Peter.
“Maaf, wahai Tuan yang penasaran, sebaiknya pertanyaanmu itu disimpan dan untuk diajukan kepada pimpinan kami. Kami, tak punya wewenang untuk memberikan informasi” Jawab ksatria yang lebih tua. Peter mengangguk dan mengikuti kedua ksatria masuk lebih ke dalam area perkemahan. kedua ksatria itu meminta mereka menunggu di luar salah satu tenda sementara mereka menemui pempinan mereka. beberapa tentara yang melewati tenda itu memerhatikan Peter, Edmund dan Nuria dengan saksama. Nuria merasa sedikit risi atas tatapan mereka dan kembali bersembunyi di balik punggung Edmund. Edmund menyadari perubahan sikap Nuria yang kemarin banyak bicara menjadi pendiam seperti sekarang.
“Pakaian kita… itu yang mereka perhatikan” Jelas Edmund sambil memalingkan wajahnya ke belakang untuk bicara dengan Nuria.
“Pakaian?” Tanya Nuria.
“Ya, kau lihat kan? Pakaian kita terlalu modern untuk tempat ini. Anggap saja kita sedang terdampar di abad pertengahan Inggris” Jelas Edmund.
“Ooh” Desah Nuria. “mereka kelihatan… kau tahu, tidak bersahabat?” Tanya Nuria. Edmund mengembangkan senyuman khasnya. senyumannya menmbuat Nuria, entah bagaimana, merasa aman.
“Tidak apa-apa, Archenland berhubungan baik dengan Narnia. Aku bersyukur kita benar-benar terdampar di Archenland, bukan tempat lain” Nuria mengangguk dan melepaskan cengkramannya pada pakaian Edmund, yang tanpa sadar dilakukannya. Kemudian, ksatria yang lebih muda keluar dari tenda dan mempersilakan mereka semua masuk ke dalam tenda.

Suasana dalam tenda cukup membuat Nuria, yang tidak pernah mengalami hal semacam ini sebelumnya, merasa luar biasa gugup. Sekali lagi, tanpa sadar, ia meremas pakaian bagian belakang Edmund.
“Selamat pagi, para pengembara. Selamat datang di Archenland” Salam seorang lelaki paruh baya yang langsung berdiri.
“Terima kasih, sambutanmu ksatria yang terhormat, aku Peter, dan ini adalah saudaraku Edmund, dan Nuria dan kami berasal dari Narnia” Sebut Peter sekali lagi.
“Kau yakin kau berasal dari Narnia? setahuku satu-satunya manusia yang tinggal di Narnia adalah sang raja sendiri, King Caspian” Kata pria itu.
“Ya, anda benar tuan ksatria, tapi ada satu hal penting yang anda lewatkan. Sebelum King Caspian, Narnia juga dipimpin oleh empat orang manusia” Jelas Peter.
Pria itu kelihatan berpikir sebentar dan menganggukkan kepalanya.
“Ya, empat bersaudara, Kings and Queens of Old…” Pria itu memebelalakkan mata sesaat setelah menyelesaikan kalimatnya. “High King Peter?” Tanya pria itu tak yakin.
“Ya, tuan ksatria yang cerdas. Aku adalah Peter, Raja tertinggi Narnia, yang menyerahkan takhtanya kepada King Caspian dari Telmarine untuk memerintah Narnia disaat kami tidak ada. Bisa aku bertemu dengan rajamu sekarang? aku yakin dia lebih mengenal kami?”

:tbc:

Jumat, 30 Juli 2010

Fanfiction: The Lion's Call

Keterangan usia karakter:
Peter Pevensie: 17
Susan Pevensie: 16
Edmund Pevensie: 14
Lucy Pevensie: 12
Nuria Harewood: 16

Disclaimer: semua yang berhubungan dengan Narnia adalah milik C S Lewis :)

Chapter 5


Susan dan Lucy berjalan perlahan mengikuti si pemimpin yang terus mengobrol dengan salah satu anak buahnya. Sementara dua orang mengawasi mereka lekat-lekat, menodongkan pedang melengkung mereka, memperkecil kemungkinan mereka bisa melarikan diri. Lagipula situasi ini terlalu berbahaya untuknya dan Lucy melarikan diri, tangan mereka berdua diikat menjadi satu, akan sulit sekali berlari dengan benar, maka ia menurut saja. Sesekali si pemimpin memalingkan wajah mereka untuk mengamati Susan dan Lucy, lalu kembali terlibat perbincangan dengan bahasa yang tak dimengerti kedua Pevensie itu. Dia ingat pernah mengunjungi satu kerajaan di padang pasir yang mempunyai bahasa yang menurutnya serupa tapi ia tak berhasil mengingatnya dengan sempurna. Itu adalah peristiwa saat ia dan saudara-saudarinya memimpin Narnia pada masa golden era, masa keemasan Narnia, dan itu, jelas sudah lama sekali. Waktu itu semua Pevensie memimpin Narnia selama bertahun-tahun, setelah mengalahkan White Witch, samapai mereka semua tumbuh dewasa, lalu mereka kembali begitu saja ke dunia asal mereka melalui lemari pakaian di rumah Professor Kirke—seperti saat mereka pertama datang, dengan usia—dan tubuh yang kembali menciut sebagai anak-anak.

Setelah berjalan pelan sekitar satu jam, mereka tiba di sebuah area perkemahan besar. Banyak sekali tentara-tentara yang sedang memersiapkan senjatanya, Susan sungguh tidak asing lagi dengan tempat seperti ini. Tenda-tenda prajurit yang memanjang, uap mengepul dari kuali besar berisi sup ala kadarnya, juga senjata-senjata yang diletakkan jadi satu. Ini adalah tenda pasukan yang akan berperang. Tenda pasukan yang sedang berperang. Ini adalah kamp pasukan perang.
“Su, ini kan…?” Lucy berusaha keras membuat suaranya sepelan mungkin, supaya hanya Susan yang mendengarnya. Para prajurit, dari yang seusia mereka, sampai yang sama tuanya dengan si pemimpin menampakkan wajah tegang khas peperangan.
“Aku tahu…” bisik Susan kepada adiknya. Mereka berada terlalu dekat dengan kamp tentara ini, makanya mereka ditangkap. Jelas sudah, mereka pasti disandera karena dianggap sebagai mata-mata musuh.
***

“Jadiiii…..” Sahut Nuria sambil menghela napas. “kalian berdua adalah raja di Narnia… dan Susan dan Lucy adalah ratunya? Begitu kan?” Simpul Nuria. Edmund dan Peter baru saja selesai menceritakan awal mula petualangan mereka berempat sebagai Raja dan Ratu di Narnia. Semua diceritakannya dengan detail. Jaman es yang panjang, mengalahkan Jadis the White Bitch (sebutan Edmund untuk Jadis the White Witch) dan pengangkatan mereka oleh Sang Singa Agung.
“Peter adalah High King, kau mengerti kan?” Tanya Edmund. Nuria mengangguk tanda mengerti. Mereka melanjutkan kisah tentang Pangeran Caspian dan bagaimana mereka mengalahkan pasukan Telmarine.
“Kalian benar-benar berperang? Maksudku, perang yang perang?” Tanya Nuria meyakinkan.
“Kalau yang kau maksud adalah perang pengecut yang pakai meriam dan rudal seperti yang terjadi di rumah kita, jawabannya bukan. Kami perang dengan menggunakan pedang, satu pasukan melawan pasukan lain, duel, archery… yang seperti itu lah perang yang kami alami” Jelas Peter.
Nuria memandangi kedua Pevensie lekat-lekat. Masa sih mereka ikut perang colossal seperti begitu?
“Dan… centaur itu benar-benar nyata? Maksudku mereka benar-benar setengah kuda?” Tanya Nuria sambil memungut ranting-ranting kering di antara daun-daun yang berserakan di hutan.
“Ya, ada juga minotaur dan yang lainnya. Dan kau bisa mengajak hewan-hewan berbicara” Sahut Edmund. Semuanya terdengar begitu sinting bagi Nuria. Sempat terpikir olehnya kalau dia sedang bermimpi saat ini. Centaur, binatang berbicara, pohon bergerak semua diceritakan begitu detil oleh Peter dan Edmund. Mereka berdua juga membicarakan soal seluruh portal yang terbuka saat mereka datang ke sini dan beranggapan Nuria tidak sengaja memasuki salah satu portal yang terbuka itu, seperti yang terjadi pada bangsa Telmarine yang aslinya adalah para bajak laut di dunia manusia yang tidak sengaja menemukan dan memasuki portal menuju Narnia. Satu portal terbuka, maka semua portal di seluruh dunia juga terbuka. Seperti ada garis yang menghubungkannya.

Dia pasti membentur sesuatu saat jatuh dari kapal. Ya, dia pasti sedang pingsan dan berhalusianasi sekarang, pikir Nuria.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Edmund yang mendapati Nuria merenung. Dia menghampiri Nuria dan memerhatikannya dengan saksama. Nuria menatap kedua mata Edmund yang terasa begitu familier untuknya. Nuria jadi merasa bahwa semua ini memang nyata, benar-benar terjadi. Separuh otaknya menyangkal Narnia sementara sisanya menegaskan yang sebaliknya. Cowok yang dihadapannya benar-benar Edmund. Edmund yang dikenalnya. Edmund yang… oke, yang pernah dia sukai sewaktu kecil. “Pete, kurasa dia masih disorientasi?” Kata Edmund, memanggil kakaknya.
“Kurasa dia hanya syok Ed,” Jawab Peter. “sebaiknya kau duduk saja, biar kami yang kumpulkan kayunya” Kata Peter. Nuria mengangguk tanda setuju. Ia merasa tak punya pilihan lain selaian menuruti kata-kata Peter. Peter raja kan?
Kepalanya juga masih terasa aneh dan berat.

Nuria berjalan kembali ke arah danau dan duduk meluruskan kakinya dibawah pohon besar yang rindang. Dia melongokkan kepalanya ke belakang, memastikan ia masih bisa melihat Edmund dan Peter yang masih serius mengumpulkan kayu bakar, tak ingin benar-benar sendirian. Setelah yakin kedua Pevensie masih dalam jangkauan matanya, Nuria mulai merilekskan punggungnya. Dia mulai terbiasa dengan pakaianannya yang masih lembab. Memerhatikan air danau yang begitu tenang, Nuria menyandarkan kepalanya dan menutup kedua matanya. Membiarkan angin sore berhembus menerpanya. Wangi kayu dan dedaunan kering yang khas membelai penciumannya. Walaupun tempat ini luar biasa indah, tetap saja, dia merasa tak nyaman. Dia tak seharusnya ada di sini. Dia tak seharusnya mengetahui tentang Narnia dan semuanya. Seperti yang dikatakan Peter, ia hanya tak sengaja memasuki portal yang terbuka. Oh, betapa ia ingin kembali ke Liverpool saat ini juga.

Mereka membuat api unggun dan Edmund berhasil mengumpulkan beberapa buah apel untuk makan malam.
“Kita jadi vegetarian malam ini?” Tanya Edmund saat melihat Peter membawa beri liar dengan topi nya. Peter tersenyum menanggapinya.
“Untuk malam ini, ya, semoga kita bisa menangkap beberapa ekor ikan besok, di danau itu pasti ada ikannya kan” Kata Peter sambil menyerahkan buah beri itu kepada Edmund.
“Kuharap kau suka apel?” Tanya Edmund kepada Nuria. Nuria kemudian mengambil apel-apel yang dibawa Edmund dan memerhatikannya lekat-lekat. Setelah duduk dan merilekskan pikirannya sejenak barusan, dia jadi lebih bisa berpikir dengan jernih. Walaupun fakta nahwa dia sedang jauh dari rumah tetap mengganggunya.
“Kau yakin apel liar ini tidak beracun?” Tanya Nuria.
“Tidak, itu apel biasa kok. Aku tahu mana buah yang beracun dan yang tidak, ini bukan yang pertama untukku dan Peter” Jelas Edmund.
“Oke” Kata Nuria ragu. Dia duduk di samping Edmund, menghadap ke danau. Suasana begitu damai dan sunyi. Matahari sore yang menyorot mereka, membuat bayangan panjang dari tubuh mereka. Peter yang baru saja kembali setelah mengikat persedian kayu bakar, duduk di sisi lain Edmund dan menghela napas panjang.
“Kita harus punya rencana untuk besok Ed,”
“Melakukan perjalanan lagi? Seperti terakhir kita datang?” Tanya Edmund jengkel.
“Memang itu yang selalu terjadi kan? Setiap kita datang ke Narnia, kita melakukan perjalanan. Pertama kali kita datang, kita berjalan jauh untuk menemui Aslan, lalu yang kedua…” Edmund memotong kalimat Peter.
“Perjalanan mencari penduduk Narnia, aku masih ingat Pete”
“Selalu ada yang harus kita selesaikan, itulah mengapa kita ada di sini” Kata Peter. “pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga kita dikirim kembali ke tempat ini” Peter memerhatikan raut wajah adiknya lekat-lekat. Memang baru kemarin mereka kembali ke London dan saat ini mereka sudah kembali ke Narnia. Edmund pasti masih lelah akan pertempuran melawan Telmarine yang benar-benar menguras tenaga.
Edmund akhirnya mengangguk.
“Kau benar, pasti ada yang harus kita lakukan, makanya Aslan mengirim kita kembali ke sini. Oke, besok kita berjalan keluar dari hutan ini. Narnia ada di utara, dimanapun kita sekarang, pertama kita harus menemukan penduduk lokal dan menanyakan kerajaan terdekat?” Edmund memberi saran. Peter menganggukkan kepala tanda setuju.
“Uh… hello kaian berdua… lalu aku bagaimana?” Nuria menyela keduanya.
“Kau? Tentu saja ikut bersama kami. Memangnya kau mau tingga di sini hah?” Jawab Edmund.
“Maksudku, kalian akan berjalan menuju kerajaan kalian, rumah kalian. Kalian pulang! Aku? Aku juga ingin pulang!” Sambar Nuria. Mereka berdua terlihat biasa-biasa saja dan sangat mengenal situasi tempat ini. Sementara Nuria merasa sangat terasing dan tak tahu apa-apa. Ketidaktahuannya membuatnya tidak nyaman.
“Nuria, kami janji akan membawau pulang. Aku paham kalau kau tak ingin berada di sini, ini bukan tempatmu. Tapi kami tak bisa melakukannya tanpa Aslan, dan untuk menemukan Aslan, kita harus kembali ke Narnia oke? Kau. Ikut. Kami.”
sekali lagi, Nuria merasa tak punya daya untuk menyangkal perkataan Peter. Entah karena dia memang tak punya pilihan lain selain ikut dengan mereka atau kharisma Peter yang terasa begitu kuat, membuat tak seorangpun berani menyangkalnya? Oh ya, tentu saja, dia kan Raja.

:tbc:

Rabu, 14 Juli 2010

Fanfiction: The Lion's Call

Keterangan usia karakter:
Peter Pevensie: 17
Susan Pevensie: 16
Edmund Pevensie: 14
Lucy Pevensie: 12
Nuria Harewood: 16

Disclaimer: semua yang berhubungan dengan Narnia adalah milik C S Lewis :)

Chapter 4

“Oh sudahlah, sepertinya kalian melupakan aku” Desah Nuria pasrah.
“Dan aku di sini… aku tidak mengerti… aku sedang berjalan-jalan di atas kapal ayahku, kami akan ke Amerika sore ini, saat melihat-lihat sisi bawah kapal dari anjungan, kurasa aku terpeleset rokku sendiri dan terjatuh ke air… dan tiba-tiba kalian menolongku?” Jelas Nuria.
“Wow” Komentar Edmund. Dia menaikkan sebelah alisnya, membandingkan dengan saat pertama kalinya ia datang ke Narnia. Waktu itu ia datang melalui lemari pakaian.
“Yang terpenting sekarang, bagaimana aku bisa kembali ke dermaga, ayahku pasti sudah sangat marah sekarang!” Seru Nuria.
“Ehm, soal itu… kurasa kami sama sekali tak bisa membantu” Jawab Peter.
“Apa?!” Seru Nuria. “Tapi… kupkir kalian tahu tempat ini?”
“Kami tak benar-benar tahu… kurasa ini di Archenland, mungkin… aku tak tahu sudah berapa lama waktu berlalu sejak kami meninggalkan tempat ini” Jawab Edmund.
“Archenland? Kupikir kau tadi bilang Narnia?” Tanya Nuria bingung. Archenland? Archenland apa? Ini masih di Inggris kan? Pikirnya.
Peter menjepit dahi diantara kedua matanya dengan jempol dan telunjuk—kebiasaannya saat stress. Dia bingung kalau harus menjelaskan seluruh Narnia pada gadis ini.
“Begini, aku masih belum tahu pasti dimana ini, kurasa kita harus mencari penduduk lokal dan bertanya” Jelas Edmund.
“Jadi kalian juga terdampar seperti aku?”
“Ya. Kami sedang berada di perpustakaan lalu ABRACADABRA! disinilah kita”
“Oh Tuhan jadi ini benar-benar bukan di Inggris? Jadi tempat ini seperti Wonderlandnya Alice? Atau Neverlandnya Peter Pan? Kalian bercanda!” Respon Nuria atas pengakuan Edmund.
“Kedengarannya memang konyol tapi setelah datang ke tempat ini dua kali—dan sekarang yang ke tiga, aku jadi percaya Neverland itu ada, tapi kurasa Wonderlandnya Alice tetap terdengar sinting untukku, bayangkan saja; pasukan kartu remi hah? tentara catur?” Kata Edmund sambil menyeringai.
“Hentikan Ed, itu membuatnya tambah bingung” Kata Peter sambil memutar bola matanya.
“Aku pusing” Kata Nuria akhirnya. Tenggelam sudah membuat kepalanya sakit. Tenggelam dan terdampar di Neverland jelas tak lebih baik.
“Berbaringlah sebentar, aku dan Edmund akan mencari ranting untuk api unggun, sebentar lagi sore dan kurasa udara tak akan jadi lebih hangat saat malam. Mungkin kita bisa menemukan makan malam sekalian” Kata Peter sambil memakai sepatunya kembali. Dia menatap pepohonan di sekitar mereka, berharap salah satunya adalah pohon buah, ia tak ingin kelaparan malam ini.
“Setelah kau lebih baik kami akan ceritakan tentang Narnia” Kata Edmund.
“Aku ditinggal sendirian di sini? Enak saja! Aku ikut!” Tenggelam, terdampar di Neverland, dan sendirian tidak terdengar menyenangkan.
***

“Lucy!” Panggil Susan yang terengah-engah. Mereka sudah berjalan menelusuri hutan lebat tiga jam penuh tanpa istirahat berharap bisa menemukan warga lokal yang kebetulan lewat atau perkampungan tapi tak ada apapun, sejauh ini. Yang mereka yakin adalah, mereka bukan sedang berada di Narnia. Mereka hapal setiap inci hutan di Narnia, sementara tempat ini terasa begitu asing.
“Oh ayolah Su, kenapa kau jadi lamban begitu” Kata Lucy sambil menghentikan langkahnya. Lucy sudah jauh berada di depan Susan.
“Maaf saja tapi aku tak punya energi sebanyak kau. Aku butuh istirahat oke?” Kata Susan sambil mengatur posisi duduknya di bawah satu pohon besar.
Lucy menghampiri kakaknya dan duduk si sisi lain pohon, menggoyang-goyangkan kakinya dengan santai. Entah bagaimana Lucy sama sekali tidak merasa lelah. Dia terlalu bersemangat karena kembali ke Narnia. Pikirannya melayang ke barbagai hal tentang Narnia; para centaurus, pohon-pohon yang bisa berdansa, dan Aslan, sang Singa Agung. Tanpa mereka sadari ada yang mengendap-endap di balik semak dan pepohonan. Enam orang berjubah panjang dengan turban menutupi rambut mereka dan bersenjata sedang mengintai mereka dari berbagai sudut.
“Lu, kau dengar itu?” Tanya Susan.
“Apa?” Tanya Lucy.
“Seperti ada orang bercakap-cakap?” Tanya Susan sekali lagi. Lucy memfokuskan pendengarannya, tapi tak mendengar apapun. Hutan itu sunyi.
“Aku tak mendengar apapun” Tepat saat Lucy menyelesaikan kalimatnya, tiga dari keenam prajurit itu berlari dengan cepat ke arah mereka, menodongkan pedang melengkung yang mengerikan. Lucy menjerit panik. Susan langsung bangkit dan segera memutari pohon besar itu untuk menggapai adiknya, mendekap erat tubuh Lucy di belakang punggungnya, berharap bisa menenangkannya, melindunginya, walaupun ia tak yakin bisa melindungi dirinya sendiri saat ini.
“Kami bukan orang jahat!” Kata Susan pada ketiga orang berturban itu, namun ketiganya tetap menodongkan pedang dan menghampiri mereka. Ketika sudah cukup dekat, muncullah ketiga orang lainnya dari balik semak. Satu diantaranya—yang kumis dan janggutnya paling tebal dan panjang, mengenakan jubah yang lebih bagus dari lima lainnya, gagang pedangnya dihiasi batu-batu mulia. Jelas sekali dia adalah pemimpin mereka atau semacamnya. Susan dan Lucy semakin panik melihat jumlah mereka.

Ketiga orang yang baru muncul itu berdiskusi dengan bahasa yang tak dimengerti Susan dan Lucy. Mereka menatap Susan dan Lucy dengan cermat, penuh pertimbangan. Setelah berdiskusi, si pemimpin berjalan mendekati kuduanya, senyum mengembang di wajahnya.
“Maaf kami menggenggu sore kalian yang indah, Nona-nona, tapi kurasa kalian harus ikut kami” Susan sempat kaget ternyata orang ini bisa berbahasa Inggris. Ketiga prajurit yang tadi menyerbu mereka melambaikan pedang besar mereka, mengisyaratkan keduanya untuk berjalan mengikuti sang pemimpin. Tak merasa punya pilihan lain, mereka mematuhinya. Susan merasakan tubuh Lucy bergetar dalam dekapannya.
“Tenang Lu, semuanya akan baik-baik saja” Bisiknya sambil meremas lengan Lucy. Kuharap, gumamnya dalam hati.

Kamis, 01 Juli 2010

Fanfiction: The Lion's Call

Keterangan usia karakter:
Peter Pevensie: 17
Susan Pevensie: 16
Edmund Pevensie: 14
Lucy Pevensie: 12
Nuria Harewood: 16

Disclaimer: all except Nuria are belongs to C S Lewis

Chapter 3

"Peter? Edmund Pevensie!" Gadis itu membelalakkan mata saat menyadari kedua orang yang menolongnya barusan adalah mantan tetangganya saat masih tinggal di Finchley. Keduanya memang jauh lebih tinggi dibanding terakhir kali ia bertemu, tapi raut wajah mereka tetap sama saja menurutnya.
"Kau kenal kami?" Tanya Peter dan Edmund bersamaan. Keduanya saling pandang. Gadis ini mengenal mereka sebagai Raja di Narnia atau?
"Tentu saja! Astaga kalian tak mengenaliku? Eh, apa yang kalian lakukan di Liverpool? Apakah Susan ikut? Bagaimana Lucy? Dia sudah besar sekarang!" Tanya gadis itu, dia bangkit perlahan dan memeras ujung pakaiannya yang basah kuyup. Kakinya masih terasa lemas dan badannya bergetar.
"Liverpool?" Edmund mengerutkan dahinya. Tempat ini bukan Liverpool tentu saja, bahkan ini bukan Inggris.
"Iya! Di sini...! Eh?!" Gadis itu tersadar ini bukan lagi tempat yang sama seperti tempat saat dia tergelincir dari anjungan kapal milik ayahnya dan tenggelam. "dimana ini?!" Tanyanya kepada Peter dan Edmund. Kedua Pevensie saling bertukar pandang dengan bingung.
"Kau datang dari Liverpool?" Tanya Peter.
"Ya! Dimana ini? Aku seharusnya ada di pelabuhan di Liverpool!" Kata gadis itu panik. Ia sudah janji pada ayahnya untuk tidak pergi terlalu jauh karena kapal yang akan membawa mereka ke Amerika akan segera berangkat.
"Dan kami seharusnya ada di perpustakaan sekolah di London, sayang sekali" Jawab Edmund sambil kembali duduk dan melepas sepatu berikut kaus kakinya yang basah. Ia tak lagi merasa kehausan setelah puas berenang--dan ikut meminum air danau saat menolong gadis ini tadi. Ia malah berharap ia kering sekarang.
"Apa maksudmu London?" Tanya gadis itu bingung. Peter ikut duduk di samping Edmund sementara gadis itu masih panik dan bingung. Tak seperti Edmund yang sedang jengkel karena sepatunya yang basah, Peter sempat melepas sepatunya sebelum terjun ke danau.
"Kau--well, kita sedang berada di Narnia" Kata Peter. Gadis itu membelalakkan matanya, kemudian mengernyit dan memandang ke sekeliling tubuhnya. Pepohonan hijau, danau...
"Narnia? Narnia apa? Aku bersumpah tadi aku ada di Liverpool! Aku tak mungkin terseret gelombang laut dan nyasar di danau sialan ini!" Papar gadis itu. Ia tadi tergelincir dari anjungan kapal bukan di tempat ini!
"Duduklah, akan kujelaskan" Pinta Peter. Gadis itu hanya bisa menatap kedua Pevensie dengan tatapan bingung, dan, tanpa punya pilihan lain, akhirnya duduk di depan mereka. Meskipun dia sedang berada di tempat asing bernama Narnia ini setidaknya dia tidak sendiri, malah bertemu teman lama.

Matanya kemudian tertuju pada Edmund. Rambut gelapnya basah, membuat kulit wajahnya terlihat makin pucat. Dulu dia sempat menyukai cowok ini. Sejak pertama kali melihatnya saat datang ke rumah Pevensie. Dulu saat usianya masih sembilan tahun, cinta monyet. Dulu dia sempat merasa konyol karena suka kepada adik Susan yang saat itu masih berusia tujuh tahun. Edmund waktu itu benar-benar menarik perhatiannya. Dia berbeda. Dia sering kali duduk menyendiri sambil membaca buku dongeng di depan perapian, sedikit berbicara dan tak suka dikelilingi orang yang tak dikenalinya. Dia hanya bergaul dengan saudara-saudarinya. Dibandingkan Peter yang hangat dan terbuka--walau sedikit berlaku superior, atau Susan yang selalu menimbang-nimbang banyak hal--terlalu dewasa untuk usianya saat itu, Edmund begitu berbeda. Unik.

Dia menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan memori yang tiba-tiba saja berkelebat di kepalanya. Sudah lima tahun dia tak bertemu dengan para Pevensie, semuanya sudah tidak sama lagi, tentu saja, sekarang mereka sudah remaja.
"So... pertama-tama, biarkan kami mengetahui namamu? Dan bagaimana kau bisa ada di sini?" Tanya Peter.
"Astaga kau benar-benar tak mengenaliku?" Tanya gadis itu. Kedua Pevensie di hadapannya menggelengkan kepala. Peter dan Edmund memandangi gadis di hadapan mereka sekali lagi dan tetap tak mendapat petunjuk.
"Sorry" Kata Peter sambil menyunggingkan senyum khasnya.
Gadis itu menarik napas panjang.
"Namaku Nuria. Ingat? Nuria Harewood. Aku tadinya tetangga kalian, aku tinggal di seberang jalan dan berteman dengan Susan, kami pergi ke sekolah yang sama. Aku juga pernah menginap di rumah kalian" Jelas Nuria. "lalu saat aku sepuluh, well, saat itu kau sebelas Pete, dan kau delapan Ed, aku pindah ke Liverpool karena ayahku mendapatkan pekerjaan di sana. Sejak saat itu aku tak lagi pernah kembali ke Finchley"
"kau ingat? Aku sering meneriakimu dari seberang jalan karena kau hampir selalu lupa menutup pagar setelah kau masuk?" Tanya Nuria kepada Peter.
"Oohh..." Tanggap Peter.
"Kau mengingatnya Pete?" Tanya Edmund dari sisi kirinya.
"Sedikit... kurasa..." Jawab Peter sedikit memaksa. Edmund memutar bola matanya, ia tahu betul sebenarnya Peter tak mengingat gadis ini, sama seperth dirinya.
"

Rabu, 12 Mei 2010

FanFiction: The Lion's Call

Disclaimer: I Own NOTHING

Chapter 2

"Dimana kita, Pete?" Tanya Edmund. Sementara saudara laki-lakinya terus memutar tubuhnya kesana kemari. Mendapati pemandangan di sekitarnya berubah drastis. Ruang perpustakaan yang ramai sepulang sekolah itu lenyap, seolah memang tak pernah ada sebelumnya. Melainkan sebuah padang rumput dan sinar matahari menyengat, tengah hari.
"Menurutmu?" Peter Pevensie menaikkan kedua alisnya menatap Edmund.
"Narnia?" Gumam Edmund. "tapi kita baru saja kembali kemarin!"
"Yeah, dan bukankah Aslan bilang aku tak akan kembali lagi? Aku tak mengerti Ed" Jawab Peter.
Edmund melepas mantel seragamnya, merasa saat ini bukanlah cuaca yang tepat untuk berpakaian tebal.
Keduanya terdiam sesaat sebelum mereka memutuskan untuk berjalan ke Timur.
"Di Narnia bagian mana ini? Aku tak ingat ada padang rumput seluas ini?" Tanya Edmund yang hanya di jawab oleh gelengan kepala oleh saudaranya.
"Yang jelas kita harus segera berjalan ke pepohonan itu, matahari ini mulai menguapkan cairan tubuhku" Kata Peter sambil menunjuk ke arah pepohonan, sekitar satu kilo meter jaraknya. Perbatasan antara padang rumput ini dengan hutan lebat.

Mereka sampai di deretan pepohonan dan langsung merebahkan diri ditengah bayang-bayang teduh pohon-pohon rindang.
"Oh Ed. Aku harap aku bawa botol minum sialan itu" Gumam Peter sambil terengah-engah, merasakan mulut dan tenggorokannya yang kering. Ibunya pernah menyuruh mereka berempat untuk membawa botol air minum. Tapi karena merasa konyol, dan tidak sesuai dengan usia mereka yang telah remaja, hanya Lucy-lah yang membawanya kemana-mana.

Mereka memejamkan mata menikmati hembusan angin semilir yang menerpa wajah-wajah berkeringat mereka.
Sampai mereka mendengar bunyi sesuatu yang besar terjebur ke dalam air.
Suara air bergemuruh membuat kedua bersaudara itu tersenyum. Ada sungai, atau danau? Ah apa saja!
Dengan sigap mereka bangkit berdiri dan saling berpandangan beberapa saat dengan bahagia. Ternyata ada sumber air di dekat mereka.
Sampai suara lain yang datang berikutnya membuat wajah mereka mengejang.

"TOLONG!!" Pekik seseorang dari balik pepohonan rindang.
Peter dan Edmund membelalakkan mata kemudian segera berlari memburu kearah datangnya suara.
Setelah beberapa saat berlari mereka pun tiba di tepi sebuah danau yang besar, dikelilingi pohon-pohon rindang, dengan air bergemuruh yang disebabkan oleh seseorang di tengahnya meronta-ronta dengan panik, berusaha menggapai udara kosong dengan tangannya yang pucat. Jelas sekali dia butuh pertolongan, dan Edmund yang pertama kali menceburkan diri ke dalam danau dan kemudian diikuti Peter.
Mereka berenang dengan sigap dan sampai di tengah danau dalam waktu singkat.
"Aku mendapatkan mu! Aku mendapatkan mu!" Seru Edmund saat berhasil menggenggam lengan orang itu. Edmund melingkarkan lengannya di tubuh orang itu, memeluknya erat untuk menenangkannya.
"Tenanglah! Kau akan membuat kita berdua tenggelam! Mengapung bersamaku" Seru Edmund kesal karena orang yang baru di tolongnya tak berhenti bergerak-gerak tak beraturan, membuatnya kesulitan mengapung. Dia bahkan sempat ikut terseret masuk ke dalam air beberapa saat.
Peter yang datang kemudian menegakkan tubuh orang itu--yang ternyata perempuan, membuat kepalanya tetap di atas permukaan air.

Dengan sedikit kesulitan--karena si gadis terus meronta-ronta dengan panik, Peter dan Edmund akhirnya berhasil membawa gadis itu ke tepian danau.
Gadis itu terbatuk-batuk dan segera memuntahkan banyak sekali air dari dalam perutnya. Mereka berdua berjongkok disamping tubuh gadis itu dan Edmund berinisiatif untuk menepuk-nepuk punggung sang gadis, membatu memompa air keluar.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Peter saat gadis itu berhenti memuntahkan air dari mulutnya.
"Apakah aku terlihat baik-baik saja?" Jawab gadis itu. "aku hampir mati tenggelam dan menurutmu aku baik?" Jawab gadis itu sinis. Peter membelalakkan mata dan Edmund menggelengkan kepala.
"Maaf Nona, tapi aku dan kakak laki-lakiku baru saja menceburkan diri ke danau untuk menolongmu!" Ucap Edmund.
"Kau tahu Ed? Mungkin tadi lebih baik kita biarkan saja dia tenggelam," Sahut Peter dengan jengkel. Merasa yang dilakukannya dan Edmund sia-sia.

Untuk pertama kalinya, sang gadis mendongakkan kepala untuk melihat kedua sosok penyelamatnya. Dan membelalakkan mata, mengenali keduanya.
Selain jadi jauh lebih tinggi, dan garis wajah yang menegas karena usia, tak ada yang berubah dari kedua bersaudara ini setelah lima tahun tak bertemu.
"A... Astaga! Peter! Edmund Pevensie!" Seru gadis itu.
Diikuti tatapan takjub kedua Pevensie.
"Kau kenal kami?" Tanya Peter dan Edmund bersamaan.

Catatan Penulis:
Chapter 2 ini menyenangkan banget untuk diketik :3
kedua Pevensie's boys kompak nyelametin cewe yang tenggelam, walaupun akhirnya si cewe malah bersikap kurang menyenangkan.
Next chapter, masih akan menceritakan Pete dan Ed dan juga si cewe ini, siapa dia sebenarnya dan bagaimana dia bisa ada di tempat ini--tenggelem pula. Hahahaa.

Jumat, 07 Mei 2010

FanFiction: The Lion's Call

Catatan Penulis:
A Fan Fiction of The Chronicle of Narnia.
Rating: Teen >> for safety, sedikit romance soalnya.
Disclaimer: i own NOTHING except MY OWN CHARACTER.

Latar waktu dalam cerita ini adalah setelah "The Chronicle of Narnia: Prince Caspian"
Penokohan dalam fic ini tentu saja masih berpusat pada keempat Pevensie dan Caspian X dan dengan tambahan satu tokoh ciptaan gua, Nuria.
Dua pairin, Susan x Caspian dan Edmund x Nuria.
Gua merasa king Ed sedang dalam usia yang tepat untuk jatuh cinta for the first time LOL

Oke, ini adalah fic Narnia pertama sepanjang hidup gua, dan, gua sangat excited! Semoga ceritanya menghibur! :D


Chapter 1

"Selamat datang di Narnia. Negeri yang terbentang antara lamp-post dan istana Cair Paravel di laut Timur. Tempat dimana hewan-hewan dapat berbicara, hal-hal ajaib terjadi dan dimana petualangan bermula"

Lucy Pevensie memandang lurus ke luar jendela ruang kelasnya, kearah langit biru cerah tanpa awan di luar sana.
Ia berharap ada seekor faun baik hati yang mengatakan kalimat itu. Ia benar-benar berharap ia ada di Narnia sekarang.
Tapi kenyataannya, dia sedang di London. Tepatnya di dalam salah satu ruang kelas di sekolah asramanya.
Sudah satu hari berlalu sejak keberangkatannya melalui portal yang dibuat Aslan dari istana Telmarine menuju peron kereta api yang kemudian membawanya ke tempat ini.
Baru dua puluh empat jam ia meninggalkan Narnia, tapi ia merasa sudah pergi untuk waktu yang lama.

Bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi. Setelah meletakan barang-barangnya di kamar asramanya, Lucy bergegas naik ke lantai tiga gedung asrama putri untuk menemui kakaknya.
Tiga kali ketukan ringan di pintu kamar cukup untuk menarik perhatian seseorang di dalamnya. Pintu pun terbuka.
"Ya?" Tanya seorang gadis berambut pirang menyambut Lucy di depan pintu.
"Bisa aku bertemu Susan?" Tanya Lucy. Gadis itu memerhatikan Lucy dengan seksama, menyadari kemiripan wajah gadis kecil ini dengan rekan sekamarnya.
"Oh, tentu! Kau pasti Lucy kan? Masuklah," Kata gadis itu sambil menyingkir dari depan pintu untuk memberi Lucy ruang. "well, mungkin kalian butuh privasi?" Tanya gadis pirang itu sambil berjalan ke luar pintu.
"Oh, terima kasih"
Kamar ini sama persis dengan kamar asramanya, dua tempat tidur, dua meja ber-rak, dua lemari pakaian dan satu kamar mandi di pojok ruangan.

Lucy berjalan perlahan dan mendapati kakaknya sedang memandang lurus ke luar jendela kamarnya, persis seperti yang dilakukannya tadi.
Lucy mengerti perasaan kakaknya. Yang dirasakan kakaknya berbeda dengan rasa rindunya terhadap Narnia. Dia jatuh cinta pada Caspian dan tidak mungkin bersama, karena Aslan sudah memutuskan bahwa Susan dan Peter tak akan kembali lagi ke Narnia.
"Susan," Panggil Lucy. Susan menoleh dan mendapati adiknya sudah berdiri di sampingnya.
"Lucy? Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Susan yang baru menyadari kehadiran adiknya dan ketidak hadiran rekan sekamarnya Lily.
"Hanya ingin ngobrol dengan mu... tentang Narnia," Jawab Lucy.
"Oh, Lu... aku sungguh tidak sedang dalam mood yang bagus untuk bicarakan ini" Sahut Susan sambil menghela napas panjang.
"Maaf Su, aku tak bermaksud mengganggumu, tapi tak ada seorangpun yang tahu tentang Narnia di sini, sementara Peter dan Edmund ada di sekolah laki-laki" Kata Lucy sambil duduk di samping kakaknya. Susan tersenyum dan berdiri untuk membuka jendela kamarnya, mungkin, angin yang berhembus masuk bisa sedikit mengurangi beban pikirannya.
Saat jendela terbuka, angin segar berhembus masuk membelai wajah Susan, membuatnya harus menyipitkan mata karena angin yang bertiup makin keras.
"Susan! Tutup jendelanya!" Seru Lucy saat menyadari ini mungkin saja badai.
Tetapi angin yang semakin keras bertiup seolah melempar mereka ke tengah ruangan.

Buku-buku berterbangan, lemari pakaian pun berantakan dibuatnya.
"Lucy!" Pekik Susan sambil menghampiri adiknya yang terhempas sampai ke sudut ruangan.
Ketika ia menyentuh tubuh Lucy, angin yang luar biasa aneh itu berhenti berhembus.

"Apa yang tadi itu?" Tanya Lucy.
"Entahlah" Jawab Susan.
Kamar Susan jadi luar biasa berantakan.
"Su! Lihat!" Seru Lucy sambil menunjuk sudut kamar. Ada sebuah pohon besar disana.
"Bagaimana...?" Susan berdiri dengan kebingungan.
Seketika pemandangan di sekitar mereka berubah perlahan. Dinding-dinding kamar memudar, digantikan dengan pepohonan hutan hujan tropis yang berlumut.
Semua perabot; tempat tidur, meja belajar dan lemari menghilang. Merekapun menyadari segala sesuatu jadi lebih terang, karena di atas mereka tak lagi dibatasi langit-langit, melainkan langit asli.
Udara pun berbeda, lebih kaya akan oksigen dan semakin menyegarkan dengan wangi dahan dahan muda dan tanah lembab.

"Mustahil!" Seru Susan.
Baru sehari berlalu dan mereka sedang berada di Narnia lagi?
Dan, bukankah Aslan sudah mengatakan bahwa Susan dan Peter tak akan pernah kembali lagi ke Narnia?
"Oh Susan! Kita di Narnia!" Lucy berteriak senang sambil melompat-lompat dengan lincahnya.